Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

WAKTU Karya: Tulisan Hujan

Malam ini aku menulis waktu Tidak akan kuhitung, karena aku tak pernah tahu pasti Yang kutahu, ternyata kita pernah begitu lama saling berbalas cinta Kita pernah saling melangkah walau bebatuan siap membentur Ini tentang waktu, Ternyata sudah lama aku menunggumu, Dan yang paling penting, Butuh waktu lama untuk merelakan kamu Sudah hari ke berapa ini? Aku lupa Tapi ketika teringat tentangmu Aku seringkali diserang demam panas perkara termandikan Rindumu yang terkadang pilu itu Aku pernah merangkak mengemis kepulanganmu Semua kulalui Aku pernah menelan biji bayah dalam digit waktu Ini tentang waktu Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Entahlah, bahkan lebih dari itu aku mengingatmu Aku terlalu asyik merindumu Sampai kulupa Mungkin ada seseorang yang juga sedang menungguku Tapi orang itu pasti akan berbeda sepertimu Iya, aku terdengar egois memang Tapi mau bagaimanapun, saat ini yang masih kutunggu hanyalah kamu Waktu berjalan, dan kau hilang d...

Senandika Luka

Apakah Pernah? Kau jatuh cinta pada seseorang Dengan sejadi-jadinya Hampir separuh dirimu kau berikan padanya Berpikir bahwa suatu saat nanti, Dia yang menjadi pendampingmu adalah cita-cita             Apa kabarnya?             Sedang apa dia sekarang?             Apakah dia sudah makan?             Beragam bentuk perhatian terus kau curahkan padanya             Tak pernah sedikitpun             Waktu kau habiskan tanpa memikirkannya Hingga pada suatu titik, Sebuah masalah memaksa kalian untuk berpisah Rasa sakit sudah tentu kau rasa Seseorang yang selama ini kau bela Ternyata tidak lebih dari seorang pendusta   ...

Menahan Luka Karya: Desti Ayu

Jangan biarkan aku menjadi terbiasa Dengan ketidakhadiranmu Jangam biarkan ingatan tentangmu Terkikis oleh waktu             Jangan biarkan lamunanku             Berhalusinasi untuk tak teguh             Apakah ini yang dinamakan egois?             Sama-sama enggan untuk memulai Walau hanya sekedar meminta maaf Cukup, bagiku ini sudah terlalu jelas Bertahan pada pijakan berbalik arah Seperti padi di musim kemarau Mati sebelum berbunga

Guruku Karya: Desti Ayu

Kau adalah panutan disetiap tindakanku Guruku, kau merupakan orang tua kedua bagiku Yang selalu menemani setiap hariku Dari matahari mulai menyongsong Hingga matahari terik menerpa Kau habiskan waktu mu Untuk berbagi ilmu kepada kami siswa mu Guruku, terima kasih ku ucapkan padamu Jasamu tak terhitung dengan jemariku Semangat mu menggebu-gebu dalam mengajariku Tak habis kata-kata mu untuk berbagi pengetahuan kepada ku Engkau sosok yang sangat dipuja untuk semua orang Karena dari didikanmu lahir generasi emas penerus bangsa Guruku, harapanku dirimu selalu menjadi suri tauladan bagiku Pahlawanku, jangan pernah mengeluh Menghadapi tingkah laku kami yang kadang tak tau malu

Kesepian yang Tak Berujung Karya: Desti Ayu

Ketika senja menjemput Angin dengan lembutnya membelai Kurasakan heningnya suasana senja itu Entah apa yang kupikirkan saat ini Dunia seakan berhenti berputar Kudapati kenyataan bahwa Waktu telah berubah dan kita tak lagi sama Ingan taman itu, waktu pertama kali bertemu Semuanya hilang, sirna seakan ditelan bumi Mana janji yang kau ucapkan dulu? Lupa, atau memang sengaja tak kau ingat Sekarang kita mulai melangkah Dan metatap dunia kita masing-masing Apakah kau tau rasanya kesepian? Iya, aku memang merasakan itu sekarang Kehilangan senyuman yang dahulu selalu menyemangatiku Namun kini jejakmu hilang Bersama dengan hembusan angin malam

BODOH Karya: Desti Ayu

Berjalan tapi tak menapak Marah dalam diam adalah yang paling sesak Mendidih darah bertumpah ruah Peringai itu tak lagi sama             Lantas apa yang kau terka             Jika kamu mau dia             Sedang dia tak punya rasa Kau mungkin tau Rasa gula jadi getir Jika dicampur dengan kapur             Sama hal nya dengan dia             Yang masih saja kau tunggu             Sedang dia sudah tak mau berbagai masalah datang tanpa jeda Sore senja pulang dengan pengharapan Menapaki jalanan bersama angin malam Membawa semua beban yang tiada habisnya Mencintainya adalah patah hati paling sengaja Pada pemilik yang tak sama ...

PINTU DORAEMON Karya : Desti Ayu, S.Si

Suara ponsel ku mulai menjengkelkan Dengan malas ku otak-atik dan ku periksa Keningku berkerut, bibirku sedikit tersenyum Mendapati pesan singkat dari manusia bumi yang tinggal di Mars Pangeran es mengajakku bersua dan bercengkrama             Nanar rasanya, bertemu hanya sekejap             Besok sudah pergi lagi kebelahan bumi lainnya             Ingin ku cabik hatinya yang beku             Yang tak pernah memahami akan serpihan hati orang lain Waktu, mengapa kau selalu menjadi musuh terberatku? Selalu saja merebut dia yang ku jaga Setengah windu kubuang percuma menerka rasanya Memandang peringai, mata sipit dan rona pipinya Tetap saja aku hanyalah angin lalu baginya             Se...

TAK LAGI SAMA Karya : Desti Ayu, S.Si

Ada waktunya saat seseorang mulai berubah Berpura-pura tak peka Berpura-pura tak mengerti Berpura-pura tak ada Bahkan seolah-olah tak mengetahui             Bukan bermaksud untuk memaikan perasaan             Ataupun menyakiti sebuah kenyataan             Tapi, belajar untuk mengerti             Menerima, bahwa hidup tak hanya tentang cinta             Melainkan, realita bahwa kita tak mungkin bersama Dariku, untuk kamu yang pernah ku perjuangkan Terima kasih Sudah menuliskan catatan kenangan yang penuh arti             

Rintik Hujan yang Menemani Lamunan

Butir-butirnya jatuh ke dasar Menemani lamunanku yang tak kunjung buyar Sayang hanya sebentar rintiknya Menghibur lalu berlahan memudar Rintik yang pergi kar e na kalah dengan sang surya Hari ini bahagiaku walau sekejap Hilang gundah, resah dari segala antah-berantah Ingin tadi kubelai ikhlasnya rintik Mu Tapi itu hanya sesuatu yang berlalu dalam pikiranku Lalu ditengah alunan nada-nada rintiknya Pandanganku terpaku pada sosok yang kubayangkan Sosok indah yang tak mampu ku sapa, Hanya melihat dari jarak yang tak mungkin disadarinya Mungkinkah kau harus belajar dari sang hujan? Yang tak pernah malu untuk terjatuh ke dasar Tak pernah takut untuk membelai bumi dengan tulus Tak seperti ku yang tak sanggup jatuh Jatuh untuk menggapai dasar hati mu Ya… pada akhirnya semua ini hanyalah sekedar lamunan ku Yang ditemani rintik menuju senja