Setelah Lulus
SMA di tanah rantauan, aku pun pulang ke kampung halaman menuju gubuk kecil
kami yang sangat aku sukai suasananya. Embun pagi yang menyegarkan, serta suasana
perkampungan yang masih kental dan bersahaja. Kutelusuri jalan menuju rumah ku
dan kulihat anak-anak yang sedang bermain sepak bola dihalaman rumah mereka,
yang terlihat sangat bahagia. Langkah kaki ku akhirnya sampai juga di depan
rumah yang sudah lama aku tinggalkan.
“tok…tok…tok…Assalamuaikum,
apa kabar Diztha,
akhirnya lulus juga ya SMA, kamu kemarin sudah daftar SNMPTN belum dan kapan
pengumumannya?”. Begitulah teman akrabku sifatnya selalu tidak berubah, selalu
mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi. Belum sempat menjawab, sudah muncul
pertanyaan lagi. Namanya Nafisyah Defira,
Dia adalah kakak kelas ku saat SMP, tetapi kami berbeda SMA. Rumah kami
bersebelahan tak heran jika kami jadi akrab seperti saudara kandung.
Aku pun menjawab
“waalaikumsalam, alhamdulilah baik, iya nih akhirnya terbebas juga dari seragam
putih abu-abu, sudah kok daftar SNMPTN tinggal nunggu pengumuman saja tanggal
27 Mei nanti Fira”.
Fira
menyambung lagi pembicaraan “Diztha ikut IRMAS mau tidak? Itu singkatan dari
Ikatan Remaja Masjid, banyak yang ikut lumayan untuk mengisi waktu senggang. Di
tambah lagi program kerjanya juga bermanfaat seperti melakukan bersih-bersih
masjid setiap hari Senin dan bersih-bersih kampung setian hari Jumat. Kita hari
Jumat itu yang dibersihin adalah mengambil sampah yang ada di selokan, di pinggir jalan lintas,
dan memangkas rumput-rumput yang sudah panjang dan tumbuh liar di pemakaman. Oh
iya...nanti tanggal 25 Mei sampai 30 Mei ada pelatihan kader BKKBN
angkatan ke-11 tahun 2014, di Palembang. Ibu Kades bilang, 2 anggota IRMAS lah
yang nantinya akan mewakili kampung
untuk diberangkatkan bersama rombongan dari Kabupaten Muara Enim untuk ke Palembang”.
Aku pun menjawab
“boleh juga ya…kegiatan IRMAS itu bermanfaat sekali, nanti kita daftar ya ikut
IRMAS dan Diztha sangat
tertarik tentang pelatihan kader BKKBN di Palembang, lumayan kan untuk refreshing, dan sambil menunggu waktu
pengumuman SNMPTN”.
Dewi Fortuna
masih berpihak kepada ku. Aku dan Fira
terpilih mengikuti pelatihan kader BKKBN angkatan ke-11 tahun 2014, di
Palembang.
“Tut…Tut…Tut…”bunyi Handpone bergetar” kenapa ya Zahra nelpon aku malam-malam
begini”ucapku dalam hati” Assalamualaikum Ra”
“Waalaikumsalam Diztha, kamu sudah lihat
pengumuman SNMPTN belum”
Aku pun menjawab”oh iya Diztha
lupa kalau hari ini pengumuman SNMPTN soalnya sekarang lagi pelatihan kader
BKKBN di Palembang. Minta tolong Zahra
lihatin yang Diztha,
kuota lagi sekarat nih”
Zahra menjawab”ok…ok…sebutin
nomor peserta Diztha berapa?”.
Nomor peserta aku 41240015417 Ra”
“Diz, kamu lulus di Jurusan Teknik Kimia Universitas
Sriwijaya” kata Zahra.
Jantungku mulai berdegup kencang
dan berirama tidak jelas saat Zahra mengatakan
aku lulus SNMPTN. “iya apa? Kamu tidak lagi bohong sama Diztha kan?.
Mungkin
percakapanku dengan Zahra
sahabat karibku saat SMA terlalu berisik membuat seisi kamar hotel melihatku.
Disana ada mbak Yuyun, mbak Sifa, mbak seril yang kerja di Dinas Kesehatan
Kabupaten Muara Enim,
dan juga Fira teman
akrabku di kampung. Tiba-tiba mbak
Seril yang dari tadi terfokus dengan gadget
nya, yang lagi chatting dengan
pacarnya, langsung teralihkan dan langsung melihatku sambil berkata ”Diztha lulus SNMPTN di UNSRI Jurusan
Teknik Kimia, selamat ya…”
mbak Yuyun pun menimpali wow...keren bisa lulus di Universitas Sriwijaya”. Aku
pun cuma bisa tersenyum getir, memikirkan bagaimana biaya perkuliahannya nanti,
sanggupkah kedua orang tua ku?
Diz…Diz…Diz…”Zahra memanggilku lewat
telepon yang masih tersambung
membuyarkan lamunanku”. Oh iya kenapa Ra?.
Selamat ya kamu
lulus di Universitas Sriwijaya”ucap Zahra”,
Aku kurang beruntung Diz,
aku tidak lulus di Universitas Sriwijaya. Tapi, aku doakan yang terbaik untuk
sahabat karibku yang satu ini. Jangan lupa beri kabar orang tua kamu kalau lulus
di Universitas Sriwijaya. Sudah dulu ya…mau bantuin mama masak. Aku pun
menjawab”Iya…Ra terima
kasih ya…atas nasehat dan doanya”.
Aku adalah
termasuk salah satu orang yang beruntung bisa merasakan lulus dari jalur SNMPTN
ke perguruan tinggi negeri terfavorit di Sumatera Selatan, membuat kedua orang
tua ku menjadi bingung. Kenapa?. Alasan pertama, Ayah sebagai kepala keluarga harus
membiayai sekolah adikku dan kebutuhan sehari-hari, sekarang ditambah lagi
untuk membiayai perkuilahanku nanti. Ayahku hanyalah seorang SATPAM di
perusahaan batu bara swasta yang beroperasi di kampungku. Gajinya sangat kecil
hanya cukup untuk kami makan sehari-hari. Alasan kedua, tentunya kedua orang
tua ku sangat senang melihat anaknya masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes,
ada kebanggaan tersendiri melihat anaknya lulus SNMPTN. Aku tidak mungkin memaksakan
kehendakku untuk kuliah jika kedua orang tua ku tidak sanggup untuk membiayaiku.
2 hari setelah
pengumuman SNMPTN, nenek ku jatuh sakit. Belum sempat menemukan jalan keluar
untuk masalah perkuliahanku, beban ayahku bertambah lagi. Ibunya jatuh sakit
dan harus dirawat ke rumah sakit.
Saat sedang
menyuapi bubuk ke nenekku, tiba-tiba ayah dan ibu mendekatiku. Diz, “sapa ibu sangat lembut
kepadaku” kamu jual saja perhiasan ibu yang tak seberapa ini untuk persiapan Diztha masuk kuliah, lalu
ayahku juga menimpali, “kamu harus jadi orang yang berpendidikan nak, jangan
seperti kami yang hanya tamat SD.
Tapi
ayah...ibu…nenekkan harus dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa penyakitnya
“jawabku”. Nenek pun tersenyum menatapku sambil berkata “nenek tidak harus
dibawa ke rumah sakit, kan sudah ada pak dokter dan bu bidan di PUSKESMAS di
kampung kita ini yang bisa memantau kesehatan nenek”. Jadi, perhiasan ibumu
kamu jual untuk biaya perkuliahan kamu saja ya Diz. Tanpa kusadari butiran-butiran bening
itu membasahi pipiku. Ayah dan ibu langsung memelukku sambil berkata “kamu
jangan sampai mengecewakan kami ya nak, ingat terus pengorbanan yang telah
ayah, ibu dan nenekmu lakukan. Jadikan ini sebagai motivasi kamu untuk jadi
orang yang lebih maju.
Hari ini adalah
40 hari nenekku meninggal, dan ini malam terakhir aku bermalam dirumah karena
besok aku akan berangkat ke Palembang untuk mulai kuliah. Betapa besar
pengorbanan nenekku, dia rela tidak dirawat di rumah sakit supaya perhiasan
ibuku yang dijual hanya untuk biaya kuliah ku saja.
1 minggu setelah
mulai kuliah, jurusan Teknik Kimia
mengumumkan ada tambahan kuota bidikmisi untuk 10 orang. Tanpa ragu aku pun
ikut mendaftar walaupun banyak sekali persyaratan yang harus aku lengkapi
seperti, foto rumah dari depan, dan bagian dalam rumah, surat keterangan tidak
mampu, surat keterangan berprestasi, slip gaji orang tua, surat kepemilikan
rumah, serta fotokopi pajak bumi dan bangunan (PBB). Persyaratan inilah yang
memaksaku harus bolak-balik pergi ke SMA ku, kerumah, serta ke Palembang.
Perjuangan tidak akan pernah menghianati hasil, pepatah ini memang benar, aku
berhasil mendapat beasiswa bidikmisi tersebut, ini jalan dari Allah yang diberikan
kepada ku untuk mengurangi
beban kedua orang tua ku. Beasiswa Bidikmisi ini sangat membantu ku, karena aku tidak lagi membayar
uang kuliah tunggal (UKT), dan aku juga mendapat uang saku Rp. 600.000,00/bulan.
Jadi beban ayahku setidaknya sedikit berkurang, dia hanya perlu memikirkan
bagaimana cara untuk membayar kosan ku saja.
Dari awal kuliah
sampai sekarang sudah semester 7 banyak kegiatan dan juga organisasi yang aku
ikutin. Seperti Himpunan Kedaerahanku yang ada di kampus yaitu IMETA, Himpunan Jurusan Teknik Kimia UNSRI yaitu IMATEK, pergi kuliah lapangan (ke Pagaralam, Yogyakarta, Bogor,
Bangka), Organisasi Rumah Sampah, serta menjadi Volunteer Sriwijaya Membaca. Dari sekian banyak kegiatan dan
organisasi yang diikuti, menjadi Volunteer
Sriwijaya Membaca merupakan kenangan yang paling berkesan. Aku dan teman-teman
yang menjadi volunteer dan pengurus
Sriwijaya Membaca pada tanggal 18 Februari 2016 pergi ke Pemulutan dalam rangka
“Sriwijaya Membaca Go To School 2” SDN
18 Desa Aurstanding Kecamatan
Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir. Pukul 5.30 WIB kami berkumpul di depan gerbang
Universitas Sriwijaya untuk Prepare
dan menunggu bus sewaan kami datang untuk pergi ke SDN 18 yang ada di
Pemulutan.
Diperjalanan
suasana didalam bus, sangat menyenangkan karena bercanda-canda, sambil nyanyi
bersama, mendengarkan lagu yang diputar oleh supir bus, sampai dengan main
tebak-tebakan judul lagu dan nama penyanyinya. Disepanjang perjalanan menuju
Pemulutan banyak sawah yang terhampar, ada hutan rawa, serta banyak burung-burung
kecil yang berterbangan menuju sawah untuk mencari makan.
Sesampainya di
Pemulutan bus kami mogok terperangkap di lumpur, disebabkan infrastruktur jalan
yang kurang memadai, karena jalannya masih tanah merah dan sedikit bercampur
dengan batu. Tingginya curah hujan yang terjadi secara terus-menerus,
menyebabkan jalan menjadi licin dan tergenang air, yang memaksa kami untuk turun
dari bus. 2 jam kami mencoba mendorong bus yang terperangkap di dalam lumpur
tetapi, hasilnya nothing. Akhirnya
ketua Sriwijaya Membaca memberikan intruksi agar kami berjalan kaki menuju SDN
18 dipemulutan tersebut, yang jaraknya cukup jauh yaitu 5,6 km. Sepatu yang
dipakai dari rumah terpaksa dilepas dan diganti dengan sandal jepit mengingat
jalan yang banyak tergenang oleh air dan licin.
Waktu telah
menunjukkan pukul 11.00 WIB dan biasanya siswa SD pulang dari sekolah pukul
12.15 WIB, tanpa basa-basi lagi kami pun berjalan di bawah teriknya matahari
yang membuat kulit rasanya terbakar. Langkah demi langkah kami telusuri, tidak
tahu sudah berapa botol air mineral yang kami habiskan. Tepat pukul 12.00 WIB
kami sampai di SDN 18 tersebut dan
syukurlah siswa-siswa SD tersebut belum pulang. Betapa terkejutnya aku, ketika
melihat SDN 18 tersebut. Hanya terdiri dari 4 ruangan saja 3 ruangan untuk
proses belajar mengajar, 1 ruangan untuk kantor. SD tersebut tidak memiliki
pagar sekolah, ruangannya sangat lusuh, atap genteng yang banyak bocor, lantai
papan yang banyak berlubang, belum lagi 1 ruangan untuk belajar diisi oleh 2
kelas, kelas 1 dan 2, kelas 3 dan 4, serta kelas 5 dan 6. Yang paling membuat
aku prihatin, pengajar disana hanya terdiri dari 4 orang saja. Kepala sekolah
dan 3 guru honorer yang tidak digaji tetapi mereka ikhlas mengajar untuk
memberikan dan berbagi ilmu kepada siswa-siswa tersebut.
Setelah upacara
pembukaan, kami pun melanjutkan agenda, yaitu mengajar di kelas untuk yang
menjadi volunteer, dan pengurus bermain
dihalaman sekolah dengan siswa-siswa tersebut. Kebetulan aku mengajar di kelas
2 bersama dengan 2 rekanku yaitu, Annisa mahasiswi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Dwi Nugraha mahasiswa dari
Jurusan Teknik Tambang. Kami mengajar
memberikan materi tentang pola hidup sehat, apa itu pancasila dan cinta tanah
air, serta bahaya dari jajan sembarangan. Suasana dikelas sangat menyenangkan
karena siswa-siswa kelas 2 SDN 18 ini sangat aktif, kami hanya bermodalkan
congkelat untuk memancing mereka menjawab pertanyaan yang kami ajukan dan
ternyata berhasil. Ditambah lagi Dwi yang bisa sulap semakin interaktif
siswa-siswa tersebut memperhatikan trik sulap yang diajarkan oleh Dwi.
Setelah mengajar
selesai kami pun melakukan upacara penutupan dan memberikan bingkisan kepada
siswa dan siswi SDN 18 tersebut seperti, buku tulis, alat tulis, dan tas. Lalu
memberikan donasi berupa uang kepada kepala sekolah untuk memperbaiki fasilitas
yang sudah tidak layak lagi untuk digunakan, dan memberikan buku-buku pelajaran
yang telah kami kumpulkan sebelumnya.
Entah mengapa
melihat siswa-siswi tersebut aku teringat akan diriku sendiri yang mati-matian berjuang untuk menempuh
pendidikan yang lebih baik, semangat adik-adik tersebut dalam menuntut ilmu
semakin membuat motivasi ku bertambah untuk jadi manusia yang lebih baik serta
berguna bagi orang lain, dan pastinya bisa membuat kedua orang tua ku tersenyum
bahagia melihat ku, nanti jika aku telah sukses.
Itulah
perjalanan rasa ku, Apa perjalanan rasa mu?.
Satu hal yang
selalu aku tekankan di dalam hidup ini, selagi kamu memiliki niat yang kuat
untuk menggapai impianmu, yakinlah Allah selalu bersama mu. Dan selagi kamu
bisa berbuat baik, lakukanlah karena dengan kamu berbuat demikian hidupmu akan
lebih berwarna dan bermanfaat untuk orang lain.
“hidup ini adalah pilihan yang harus kita
jalani, tetap teguh pada pendirian, tutup mata, tutup telinga, dan jalani hidup
dengan senyuman serta istiqomah selalu”.



Komentar
Posting Komentar