Langsung ke konten utama

Niat yang Kuat dan Pengorbanan Karya Desti Ayu






Setelah Lulus SMA di tanah rantauan, aku pun pulang ke kampung halaman menuju gubuk kecil kami yang sangat aku sukai suasananya. Embun pagi yang menyegarkan, serta suasana perkampungan yang masih kental dan bersahaja. Kutelusuri jalan menuju rumah ku dan kulihat anak-anak yang sedang bermain sepak bola dihalaman rumah mereka, yang terlihat sangat bahagia. Langkah kaki ku akhirnya sampai juga di depan rumah yang sudah lama aku tinggalkan.
“tok…tok…tok…Assalamuaikum, apa kabar Diztha, akhirnya lulus juga ya SMA, kamu kemarin sudah daftar SNMPTN belum dan kapan pengumumannya?”. Begitulah teman akrabku sifatnya selalu tidak berubah, selalu mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi. Belum sempat menjawab, sudah muncul pertanyaan lagi. Namanya Nafisyah Defira, Dia adalah kakak kelas ku saat SMP, tetapi kami berbeda SMA. Rumah kami bersebelahan tak heran jika kami jadi akrab seperti saudara kandung.
Aku pun menjawab “waalaikumsalam, alhamdulilah baik, iya nih akhirnya terbebas juga dari seragam putih abu-abu, sudah kok daftar SNMPTN tinggal nunggu pengumuman saja tanggal 27 Mei nanti Fira”.
Fira menyambung lagi pembicaraan “Diztha  ikut IRMAS mau tidak? Itu singkatan dari Ikatan Remaja Masjid, banyak yang ikut lumayan untuk mengisi waktu senggang. Di tambah lagi program kerjanya juga bermanfaat seperti melakukan bersih-bersih masjid setiap hari Senin dan bersih-bersih kampung setian hari Jumat. Kita hari Jumat itu yang dibersihin adalah mengambil sampah yang ada di selokan, di pinggir jalan lintas, dan memangkas rumput-rumput yang sudah panjang dan tumbuh liar di pemakaman. Oh iya...nanti tanggal 25 Mei sampai 30 Mei ada pelatihan kader BKKBN angkatan ke-11 tahun 2014, di Palembang. Ibu Kades bilang, 2 anggota IRMAS lah yang nantinya akan  mewakili kampung untuk diberangkatkan bersama rombongan dari Kabupaten Muara Enim untuk ke Palembang”.
Aku pun menjawab “boleh juga ya…kegiatan IRMAS itu bermanfaat sekali, nanti kita daftar ya ikut IRMAS dan Diztha sangat tertarik tentang pelatihan kader BKKBN di Palembang, lumayan kan untuk refreshing, dan sambil menunggu waktu pengumuman SNMPTN”.
Dewi Fortuna masih berpihak kepada ku. Aku dan Fira terpilih mengikuti pelatihan kader BKKBN angkatan ke-11 tahun 2014, di Palembang.
“Tut…Tut…Tut…”bunyi Handpone bergetar” kenapa ya Zahra nelpon aku malam-malam begini”ucapku dalam hati” Assalamualaikum Ra
“Waalaikumsalam Diztha, kamu sudah lihat pengumuman SNMPTN belum”
Aku pun menjawab”oh  iya Diztha lupa kalau hari ini pengumuman SNMPTN soalnya sekarang lagi pelatihan kader BKKBN di Palembang. Minta tolong Zahra lihatin yang Diztha, kuota lagi sekarat nih”
Zahra menjawab”ok…ok…sebutin nomor peserta Diztha berapa?”. Nomor peserta aku 41240015417 Ra
Diz, kamu lulus di Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya” kata Zahra.
Jantungku mulai berdegup kencang dan berirama tidak jelas saat Zahra mengatakan aku lulus SNMPTN. “iya apa? Kamu tidak lagi bohong sama Diztha kan?.
Mungkin percakapanku dengan Zahra sahabat karibku saat SMA terlalu berisik membuat seisi kamar hotel melihatku. Disana ada mbak Yuyun, mbak Sifa, mbak seril yang kerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, dan juga Fira teman akrabku di kampung. Tiba-tiba mbak Seril yang dari tadi terfokus dengan gadget nya, yang lagi chatting dengan pacarnya, langsung teralihkan dan langsung melihatku sambil berkata ”Diztha lulus SNMPTN di UNSRI Jurusan Teknik Kimia, selamat ya…” mbak Yuyun pun menimpali wow...keren bisa lulus di Universitas Sriwijaya”. Aku pun cuma bisa tersenyum getir, memikirkan bagaimana biaya perkuliahannya nanti, sanggupkah kedua orang tua ku?
DizDizDiz…”Zahra memanggilku lewat telepon yang masih tersambung membuyarkan lamunanku”. Oh iya kenapa Ra?.
Selamat ya kamu lulus di Universitas Sriwijaya”ucap Zahra”, Aku kurang beruntung Diz, aku tidak lulus di Universitas Sriwijaya. Tapi, aku doakan yang terbaik untuk sahabat karibku yang satu ini. Jangan lupa beri kabar orang tua kamu kalau lulus di Universitas Sriwijaya. Sudah dulu ya…mau bantuin mama masak. Aku pun menjawab”Iya…Ra terima kasih ya…atas nasehat dan doanya”.
Aku adalah termasuk salah satu orang yang beruntung bisa merasakan lulus dari jalur SNMPTN ke perguruan tinggi negeri terfavorit di Sumatera Selatan, membuat kedua orang tua ku menjadi bingung. Kenapa?. Alasan pertama, Ayah sebagai kepala keluarga harus membiayai sekolah adikku dan kebutuhan sehari-hari, sekarang ditambah lagi untuk membiayai perkuilahanku nanti. Ayahku hanyalah seorang SATPAM di perusahaan batu bara swasta yang beroperasi di kampungku. Gajinya sangat kecil hanya cukup untuk kami makan sehari-hari. Alasan kedua, tentunya kedua orang tua ku sangat senang melihat anaknya masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes, ada kebanggaan tersendiri melihat anaknya lulus SNMPTN. Aku tidak mungkin memaksakan kehendakku untuk kuliah jika kedua orang tua ku tidak sanggup untuk membiayaiku.
2 hari setelah pengumuman SNMPTN, nenek ku jatuh sakit. Belum sempat menemukan jalan keluar untuk masalah perkuliahanku, beban ayahku bertambah lagi. Ibunya jatuh sakit dan harus dirawat ke rumah sakit.
Saat sedang menyuapi bubuk ke nenekku, tiba-tiba ayah dan ibu mendekatiku. Diz, “sapa ibu sangat lembut kepadaku” kamu jual saja perhiasan ibu yang tak seberapa ini untuk persiapan Diztha masuk kuliah, lalu ayahku juga menimpali, “kamu harus jadi orang yang berpendidikan nak, jangan seperti kami yang hanya tamat SD.
Tapi ayah...ibu…nenekkan harus dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa penyakitnya “jawabku”. Nenek pun tersenyum menatapku sambil berkata “nenek tidak harus dibawa ke rumah sakit, kan sudah ada pak dokter dan bu bidan di PUSKESMAS di kampung kita ini yang bisa memantau kesehatan nenek”. Jadi, perhiasan ibumu kamu jual untuk biaya perkuliahan kamu saja ya Diz. Tanpa kusadari butiran-butiran bening itu membasahi pipiku. Ayah dan ibu langsung memelukku sambil berkata “kamu jangan sampai mengecewakan kami ya nak, ingat terus pengorbanan yang telah ayah, ibu dan nenekmu lakukan. Jadikan ini sebagai motivasi kamu untuk jadi orang yang lebih maju.
Hari ini adalah 40 hari nenekku meninggal, dan ini malam terakhir aku bermalam dirumah karena besok aku akan berangkat ke Palembang untuk mulai kuliah. Betapa besar pengorbanan nenekku, dia rela tidak dirawat di rumah sakit supaya perhiasan ibuku yang dijual hanya untuk biaya kuliah ku saja.
1 minggu setelah mulai kuliah, jurusan Teknik Kimia mengumumkan ada tambahan kuota bidikmisi untuk 10 orang. Tanpa ragu aku pun ikut mendaftar walaupun banyak sekali persyaratan yang harus aku lengkapi seperti, foto rumah dari depan, dan bagian dalam rumah, surat keterangan tidak mampu, surat keterangan berprestasi, slip gaji orang tua, surat kepemilikan rumah, serta fotokopi pajak bumi dan bangunan (PBB). Persyaratan inilah yang memaksaku harus bolak-balik pergi ke SMA ku, kerumah, serta ke Palembang. Perjuangan tidak akan pernah menghianati hasil, pepatah ini memang benar, aku berhasil mendapat beasiswa bidikmisi tersebut, ini jalan dari Allah yang diberikan kepada ku untuk mengurangi beban kedua orang tua ku. Beasiswa Bidikmisi ini sangat membantu ku, karena aku tidak lagi membayar uang kuliah tunggal (UKT), dan aku juga mendapat uang saku Rp. 600.000,00/bulan. Jadi beban ayahku setidaknya sedikit berkurang, dia hanya perlu memikirkan bagaimana cara untuk membayar kosan ku saja.
Dari awal kuliah sampai sekarang sudah semester 7 banyak kegiatan dan juga organisasi yang aku ikutin. Seperti Himpunan Kedaerahanku yang ada di kampus yaitu IMETA, Himpunan Jurusan Teknik Kimia UNSRI yaitu IMATEK, pergi kuliah lapangan (ke Pagaralam, Yogyakarta, Bogor, Bangka), Organisasi Rumah Sampah, serta menjadi Volunteer Sriwijaya Membaca. Dari sekian banyak kegiatan dan organisasi yang diikuti, menjadi Volunteer Sriwijaya Membaca merupakan kenangan yang paling berkesan. Aku dan teman-teman yang menjadi volunteer dan pengurus Sriwijaya Membaca pada tanggal 18 Februari 2016 pergi ke Pemulutan dalam rangka “Sriwijaya Membaca Go To School 2”    SDN 18 Desa Aurstanding Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir. Pukul 5.30 WIB kami berkumpul di depan gerbang Universitas Sriwijaya untuk Prepare dan menunggu bus sewaan kami datang untuk pergi ke SDN 18 yang ada di Pemulutan.
Diperjalanan suasana didalam bus, sangat menyenangkan karena bercanda-canda, sambil nyanyi bersama, mendengarkan lagu yang diputar oleh supir bus, sampai dengan main tebak-tebakan judul lagu dan nama penyanyinya. Disepanjang perjalanan menuju Pemulutan banyak sawah yang terhampar, ada hutan rawa, serta banyak burung-burung kecil yang berterbangan menuju sawah untuk mencari makan.
Sesampainya di Pemulutan bus kami mogok terperangkap di lumpur, disebabkan infrastruktur jalan yang kurang memadai, karena jalannya masih tanah merah dan sedikit bercampur dengan batu. Tingginya curah hujan yang terjadi secara terus-menerus, menyebabkan jalan menjadi licin dan tergenang air, yang memaksa kami untuk turun dari bus. 2 jam kami mencoba mendorong bus yang terperangkap di dalam lumpur tetapi, hasilnya nothing. Akhirnya ketua Sriwijaya Membaca memberikan intruksi agar kami berjalan kaki menuju SDN 18 dipemulutan tersebut, yang jaraknya cukup jauh yaitu 5,6 km. Sepatu yang dipakai dari rumah terpaksa dilepas dan diganti dengan sandal jepit mengingat jalan yang banyak tergenang oleh air dan licin.
Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIB dan biasanya siswa SD pulang dari sekolah pukul 12.15 WIB, tanpa basa-basi lagi kami pun berjalan di bawah teriknya matahari yang membuat kulit rasanya terbakar. Langkah demi langkah kami telusuri, tidak tahu sudah berapa botol air mineral yang kami habiskan. Tepat pukul 12.00 WIB kami sampai di SDN 18 tersebut dan syukurlah siswa-siswa SD tersebut belum pulang. Betapa terkejutnya aku, ketika melihat SDN 18 tersebut. Hanya terdiri dari 4 ruangan saja 3 ruangan untuk proses belajar mengajar, 1 ruangan untuk kantor. SD tersebut tidak memiliki pagar sekolah, ruangannya sangat lusuh, atap genteng yang banyak bocor, lantai papan yang banyak berlubang, belum lagi 1 ruangan untuk belajar diisi oleh 2 kelas, kelas 1 dan 2, kelas 3 dan 4, serta kelas 5 dan 6. Yang paling membuat aku prihatin, pengajar disana hanya terdiri dari 4 orang saja. Kepala sekolah dan 3 guru honorer yang tidak digaji tetapi mereka ikhlas mengajar untuk memberikan dan berbagi ilmu kepada siswa-siswa tersebut.
Setelah upacara pembukaan, kami pun melanjutkan agenda, yaitu mengajar di kelas untuk yang menjadi volunteer, dan pengurus bermain dihalaman sekolah dengan siswa-siswa tersebut. Kebetulan aku mengajar di kelas 2 bersama dengan 2 rekanku yaitu, Annisa mahasiswi  dari Fakultas Kesehatan  Masyarakat, dan Dwi Nugraha mahasiswa dari Jurusan Teknik Tambang. Kami mengajar memberikan materi tentang pola hidup sehat, apa itu pancasila dan cinta tanah air, serta bahaya dari jajan sembarangan. Suasana dikelas sangat menyenangkan karena siswa-siswa kelas 2 SDN 18 ini sangat aktif, kami hanya bermodalkan congkelat untuk memancing mereka menjawab pertanyaan yang kami ajukan dan ternyata berhasil. Ditambah lagi Dwi yang bisa sulap semakin interaktif siswa-siswa tersebut memperhatikan trik sulap yang diajarkan oleh Dwi.
Setelah mengajar selesai kami pun melakukan upacara penutupan dan memberikan bingkisan kepada siswa dan siswi SDN 18 tersebut seperti, buku tulis, alat tulis, dan tas. Lalu memberikan donasi berupa uang kepada kepala sekolah untuk memperbaiki fasilitas yang sudah tidak layak lagi untuk digunakan, dan memberikan buku-buku pelajaran yang telah kami kumpulkan sebelumnya.
Entah mengapa melihat siswa-siswi tersebut aku teringat akan diriku sendiri yang   mati-matian berjuang untuk menempuh pendidikan yang lebih baik, semangat adik-adik tersebut dalam menuntut ilmu semakin membuat motivasi ku bertambah untuk jadi manusia yang lebih baik serta berguna bagi orang lain, dan pastinya bisa membuat kedua orang tua ku tersenyum bahagia melihat ku, nanti jika aku telah sukses.
Itulah perjalanan rasa ku, Apa perjalanan rasa mu?.
Satu hal yang selalu aku tekankan di dalam hidup ini, selagi kamu memiliki niat yang kuat untuk menggapai impianmu, yakinlah Allah selalu bersama mu. Dan selagi kamu bisa berbuat baik, lakukanlah karena dengan kamu berbuat demikian hidupmu akan lebih berwarna dan bermanfaat untuk orang lain.



“hidup ini adalah pilihan yang harus kita jalani, tetap teguh pada pendirian, tutup mata, tutup telinga, dan jalani hidup dengan senyuman serta istiqomah selalu”.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEHANCUR ITU AKU PERNAH Karya Brian Khrisna

Aku pernah hancur karena terlalu percaya Pernah juga patah karena memilih orang yang salah Aku pernah terkubur dalam-dalam di hati seseorang Yang kuselami dengan niat untuk bisa ku mengerti Aku pernah memutuskan berjuang Untuk hati yang memperjuangkan orang lain Aku pernah tercerai berai ketika kasihku tak sampai Aku pernah tertusuk pecahan hatiku sendiri Ketika sedang menyusun lalu kau datang lagi Aku pernah terjatuh dua kali Karena ceroboh memberikan kesempatan Aku pernah ditinggalkan karena menunggu Aku juga pernah dihakimi karena melindungi Aku pernah ditinggal pergi karena tak cukup memberi Aku pernah ditikam karena terlalu jujur pada hati sendiri Aku pernah disalahkan karena berbicara yang sebenarnya Aku pernah disuruh menunggu ketika ia tengah menunggu orang lain Aku pernah seperti itu Sehancur itu aku pernah berjuang Berkali-kali bangkit hanya untuk kembali di hancurkan Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku pernah sehancur itu Jika kau...

SI MERAH

    Mistis, mungkin kata itu masing menjadi topik yang sangat sering kita perbincangkan saat ini. Ada golongan orang mempercayai keberadaan mereka, ada juga yang pura-pura tidak percaya karena takut, ada juga yang tidak percaya sama sekali tentang keberdaan makhluk gaib. Jurusanku sangat terkenal akan kehororannya. Banyak sekali aku mendengar cerita-cerita menyeramkan dari kakak tingkat, baik itu cerita turun-temurun dari angkatan-angkatan terdahulu, atau pengalaman pribadi saat mereka berada di jurusan. Aku kuliah disalah satu Universitas Negeri yang ada di Sumatera Selatan, kampus kuning adalah identitas dari universitaku, dan ciri dari Fakultasku adalah dengan warna Orange-nya. Jurusanku sangat akrab dengan hewa, tumbuhan, dan bakteri. Orang bilang, kami adalah dokter untuk makhluk hidup. Jurusanku terdiri tiga lantai, lantai pertama ada ruangan dosen dan tata usaha, laboratorium Ekologi, Laboratorium komputer, ruang seminar, perpustakaan jurusan dan toilet untuk Dose...

Pembuatan Preparat Daun Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) Karya Desti Ayu, S.Si

Penampakan stomata pada saat membuat preparat mata kuliah mikroteknik (Dokumen Pribadi, 2016)   MIKROTEKNIK        Mikroteknik merupakan suatu ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan mata terbuka biasa tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Banyak metode dalam mikroteknik, diantaranya metode geser, metode maserasi, metode kayu, metode squash, metode parafin, dan metode whole mount (Fransisca, 2012).      Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik, untuk klasifikasi praktis. Bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras. Spesimen tumbuhan yang sedang tumbuh maupun yang sedang dalam pr...