Hidup itu lucu, kita
bisa tentukan apa yang kita cari tapi kita tak bisa atur apa yang kita temukan.
Menghadapi problema tentang perasaan cinta monyet yang terjadi pada saat
remaja. Aku bertemu lagi dengan sosok cinta pertamaku pada saat bangku kuliah.
Namanya Iqbal Alfaro Alfhad, satu angkatan lebih tua di atas ku. Kita satu
fakultas, tetapi berbeda jurusan. Hari ini aku menceritakan pertemuan dengan
kak Iqbal kepada sahabatku Dita.
“Itu
kak Iqbal Dita, Anak Fisika angkatan 2013, waktu kita kuliah dulu. Ingat tidak?”
“Iya
ingat, terus hubungannya sama minta bantuan denganku apa Intan?” jawab
Dita.
“Dita
tau kan kak Iqbal itu bagaimana. Dia itu Dit, laki-laki langkah, yang
hari-harinya diisi dengan menambah ilmu. Hobinya baca buku. Dan tidak hanya
itu, waktu kuliah dulu aku tau sekali, bahwa kak Iqbal jadi tempat teman-teman
dan adik tingkatnya bertanya apa saja. Tapi bahkan dengan segala kecemerlangan
otaknya, dia tetap hormat dengan dosen-dosen. Luar biasa kan?. Dan yang paling
keren Dita, dia berusaha sholat di masjid terus”.
“Kamu
stalkerin dia?” sahut Dita.
“Bukan
itu pointnya Dit” cetusku.
“Iya
aku tau, kamu mau cerita kalau kamu naksir sama dia?” hardik Dita dengan
sengaja
“Siapa
yang tidak naksir?, coba Dit sekarang aku tanya sama kamu, perempuan mana yang
tidak naksir sama laki-laki yang ganteng, cerdas, lucu, ramah, alim, ganteng”.
“Intan
kamu nyebutin gantengnya dua kali” Dita sambil tersenyum melihat tingkat
sahabatnya itu.
“ I
know Dit, karena dia itu emang seganteng itu, malah mirip dengan aktor
Thailand Mario Maurer”.
“Ya
sudah ok...ok... terus kamu mau minta bantuan aku apa? Jodohin? Duh.....Intan
kan aku tidak kenal sama kak Iqbal”
“No....no....no...
yang aku butuhkan adalah kamu ubah aku”
“Kamu
minta aku makeover?”
“Bukan
Dita, kamu tau kan perempuan yang baik”
“untuk
laki-laki yang baik” sergap Dita
“Cerdas,
Dit aku kan mau sama kak Iqbal. Itu artinya aku harus berubah menjadi lebih
baik, aku harus hijrah Dit. Dan yang bisa bantu aku ya.....kamu”
“Aduh
Tan........”
“Sebentar-sebentar
Dit, jangan marah dulu, aku sudah
membeli semua benda yang
dibutuhkan
untuk hijrah. Ada jilbab syar’i, gamis, buku tetang tauhid, ada juga buku
tentang motivasi diri untuk hijrah”
“Kamu
serius?” tanya Dita
“Aku
serius Dit, apa lagi pas kemarin bertemu dengan kak Iqbal di toko buku. Aku
yakin, kalau aku sama kak Iqbal itu jodoh”.
“Ya....ampun.....Intan,
tapi hijrah tidak begini juga kali. Hijrah itu bukan hanya tentang perubahan
fisik, bukan cuma ubah penampilan”.
“Jadi
semua gamis dan jilbab yang aku beli ini tidak perlu Dit?”.
“Bukan
tidak perlu, tampilan yang berubah bisa sekali untuk mengingatkan kita, kalau
sedang berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Tapi kalau kamu serius aku
dukung kamu Tan”
“Aku
Serius, Dit”
“Iya
aku percaya. Kalau kamu serius aku mau bantu. Kalau mau berubah menjadi baik,
mulai dari pendisliplinan diri yang paling sederhana dan bangun subuh.
Memperbaiki adab dan etika ke orang tua juga diubah, kan kamu tinggal bersama
ibu dan ayah. Bismillah, bakti dengan orang tua dijaga baik-baik. Dan yang
harus diingat, tidak semua orang Intan akan bisa terima perubahan kamu, kamu
harus tahan menghadapi godaan itu”.
Ternyata berubah jadi
baik memang tidak mudah. Bangun ketika orang lain masih terlelap, berbakti dan
mengabdi kepada orang tua, berusaha lebih rajin dan peduli sama rumah, meski
sebernarnya sedang lelah. Harus tahan diri dari orang-orang yang tidak bisa
menghargai pilihan kita. Belum lagi waktu yang biasanya dipakai untuk istirahat,
sekarang dipakai kajian dan majelis ilmu. Setelah satu bulan lebih berjalan,
perubahan ini sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Aneh, tadinya aku pikir
aku akan kecewa berat, sedih, dan marah, kalau hasilnya begini. Mengetahui kak Iqbal sudah menikah dengan Hanna, perempuan
yang menjadi pilihannya. Ternyata aku merasakan biasa saja. Hijrah yang awalnya
kulakukan demi menjadi pantas untuk kak Iqbal ternyata malah membuatku lebih
dekat dengan kedua orang tuaku. Hijrah yang awalnya kulakukan untuk mendapat
pasangan, justru membuatku mendapatkan predikat pekerja teladan. Hijrah yang
awalnya kulakukan demi mendekati manusia, ternyata malah mendekatkan hatiku
dengan sang pencipta.
Ternyata benar yang
dikatakan Dita, kita boleh memulai hijrah dengan alasan apapun, karena ketika
kita menjalankannya dengan sepenuh hati tuhan akan tetap memberi kita hasil terbaik.
Bagaimanapun aku telah berterima kasih kepada kak Iqbal, karenanya aku
menemukan jalan untuk berubah menjadi lebih baik.
Aku punya doa baru
sekarang, Aku harap bisa seperti kak Iqbal,
menjadi inspirasi untuk hijrahnya orang lain. Menjadi motivasi untuk orang lain
mau berubah menjadi lebih baik.
keren bangettt!!
BalasHapusmakasih kakak
BalasHapus