Menceritakan tentang
perjalanan seorang guru honorer yang setia mengabdi untuk negara, seakan
membuka kembali sebuah catatan kenangan. Mengingat sebuah perjalanan panjang
untuk menemukan makna sebuah keikhlasan. Untuk dapat memahaminya, tidak hanya
dibutuhkan canda, tawa, dan kebahagiaan. Tapi menapaki perjalanan yang
penuh lika-liku karena telah melalui
banyak goresan luka di balik air mata. Bagaimana hari-hariku dihiasi oleh
berjuta karakter gerenasi milenial.
Mungkin yang terbayang
dibenakku setelah wisuda akan bekerja di perusahaan yang aku inginkan, karena
gelarku adalah Sarjana Sains. Ternyata Allah punya rencana lain, DIA menyuruhku
menjadi pahlawan tanpa jasa untuk mendidik putra-putri bangsa. Yang terlintas
dibenakku menjadi seorang guru sangatlah mudah, kita hanya menjelaskan
pelajaran, latihan soal dan memberikan PR. Ternyata aku salah, anak jaman
sekarang sangat berbeda dengan anak jaman 90an. Mereka terlalu banyak bermain
dengan gadget yang kadang
disalahgunakan sehingga berdampak pada kelakuan mereka disekolah.
Jika orang awam
mengatakan pekerjaan yang paling mudah adalah menjadi guru, Selamat Anda salah
besar. Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran yang sangat ekstra, harus rela pergi
sebelum matahari menyingsing, dan pulang mendekati matahari tenggelam.
Tidak dipungkiri setiap
anak mempunyai kecerdasan yang berbeda, tetapi sebagai seorang guru mempunyai
tanggung jawab untuk mengajari mereka sampai bisa. Belum lagi jika mereka
kadang tidak mengerti pelajaran yang aku jelaskan. Entah bahasa ku yang terlalu
tinggi atau memang anak didik ku yang tidak memperhatikan.
Diawal menjadi guru
honorer aku sangat kewalahan menghadapi anak didik ku. Apalagi umur ku yang
terbilang masih cukup muda, seakan dirasa mereka sebagai kakak atau sahabat
untuk mereka. Bukan menjadi seorang ibu guru yang disegani. Aku mengajar di dua
tempat yaitu di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di
pedalaman. Banyak yang mengira aku bekerja hanya karena materi semata. Karena
mengajar di dua tempat. Andai mereka tahu, kalau hanya karena materi mungkin
sudah lama aku resign dari
pekerjaanku. Andai mereka tahu, gajiku tak sebanding dengan pengeluaranku.
Andai mereka tahu, upah yang ku dapat hanya sebesar Rp.300.000,00 Per bulan.
Jika bukan karena niatku untuk membagi ilmu yang ku dapat di bangku kuliah
mungkin aku akan menyerah.
Melihat anak didik ku
bisa menang lomba story telling
Bahasa Inggris, lomba pidato Bahasa Indonesia, juara Olimpiade Tingkat
Kabupaten dalam bidang biologi, kimia, ekonomi dan kebumian,
serta juara duet
gitaris tingkat Kabupaten. Rasanya aku terlalu malu untuk
mengucapkan kata menyerah di depan
mereka yang tetap semangat berjuang di dalam keterbatasan.
Tempat ku mengajar jauh
dari kata layak dalam segi fasilitas, karna jauh dari pusat kota. Pemerintah
menerapkan kurikulum 2013 tetapi pada penerapannya belum banyak sekolah yang
siap karena kadang penyebaran bantuan tidak merata atau terambat oleh jarak.
Bukankah tolak ukur
dari suatu negara adalah pendidikannya?. Semakin berkualitas pendidikan di
suatu negara maka akan semakin banyak negara tersebut mencetak generasi-generasi milenial. Karena
pendidikan formal dimulai dari SD hingga bangku kuliah.
Terkadang terlalu
banyak orang yang meremehkan guru honorer. Termasuk siswa itu sendiri. Padahal
mereka sudah mengabdi dengan sepenuh jiwa, setulus hati, tetap saja tidak
dihargai. Miris ketika melihat berita yang beredar di media sosial dan televisi
tentang kelakuan pelajar yang tidak mencerminkan seorang pelajar seperti
membully gurunya, memukul gurunya, bahkan mengadukan gurunya ke kantor polisi.
Menerapkan pendidikan
berkarakter memang banyak rintangan yang harus dihadapi. Karena kalau seorang
guru hanya mencetak siswa yang pintar tanpa akhlak maka akan banyak menambah
pendusta, diktator dan koruptor di Indonesia di masa mendatang. Tetapi jika
guru mencetak siswa yang cerdas dan biasa-biasa saja tapi mempunyai akhlak
mungkin Indonesia akan menjadi negara maju di tahun 2045.
Tidak selamanya
kekayaan mampu membeli kebahagiaan, itu benar! Memilih sebuah pekerjaan yang
bisa memberikan jaminan masa depan, tapi melupakan bahwa kekayaan dan kekuasaan
bisa memberikan kekuatan untuk seseorang melakukan segalanya, termasuk sikut-menyikut. Aku tidak perlu menjadi orang
lain untuk membuat seseorang menghargaiku. Aaku juga tidak perlu mengawasi
kehidupan seseorang selama 24 jam hanya untuk mendapat kepercayaan dan pujian.
Rasa cinta, tulus dan
ikhlas adalah sesuatu yang sangat berharga karena tidak bisa di beli dengan
uang. Senja memang terlihat indah karena memancarkan ronanya, tapi hanya
pengorbananlah yang akan mampu membuat dunia kita berwarna. Jika saat ini kita
belum menemukan tempat yang nyaman bukan berarti cerita kehidupan ini sudah
berakhir.
JAYALAH
PENDIDIKAN INDONESIA!!!

Komentar
Posting Komentar