Langsung ke konten utama

UJUNG TOMBAK INDONESIAKU Karya: Desti Ayu



Menceritakan tentang perjalanan seorang guru honorer yang setia mengabdi untuk negara, seakan membuka kembali sebuah catatan kenangan. Mengingat sebuah perjalanan panjang untuk menemukan makna sebuah keikhlasan. Untuk dapat memahaminya, tidak hanya dibutuhkan canda, tawa, dan kebahagiaan. Tapi menapaki perjalanan yang penuh    lika-liku karena telah melalui banyak goresan luka di balik air mata. Bagaimana hari-hariku dihiasi oleh berjuta karakter gerenasi milenial.
Mungkin yang terbayang dibenakku setelah wisuda akan bekerja di perusahaan yang aku inginkan, karena gelarku adalah Sarjana Sains. Ternyata Allah punya rencana lain, DIA menyuruhku menjadi pahlawan tanpa jasa untuk mendidik putra-putri bangsa. Yang terlintas dibenakku menjadi seorang guru sangatlah mudah, kita hanya menjelaskan pelajaran, latihan soal dan memberikan PR. Ternyata aku salah, anak jaman sekarang sangat berbeda dengan anak jaman 90an. Mereka terlalu banyak bermain dengan gadget yang kadang disalahgunakan sehingga berdampak pada kelakuan mereka disekolah.
Jika orang awam mengatakan pekerjaan yang paling mudah adalah menjadi guru, Selamat Anda salah besar. Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran yang sangat ekstra, harus rela pergi sebelum matahari menyingsing, dan pulang mendekati matahari tenggelam.
Tidak dipungkiri setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda, tetapi sebagai seorang guru mempunyai tanggung jawab untuk mengajari mereka sampai bisa. Belum lagi jika mereka kadang tidak mengerti pelajaran yang aku jelaskan. Entah bahasa ku yang terlalu tinggi atau memang anak didik ku yang tidak memperhatikan.
Diawal menjadi guru honorer aku sangat kewalahan menghadapi anak didik ku. Apalagi umur ku yang terbilang masih cukup muda, seakan dirasa mereka sebagai kakak atau sahabat untuk mereka. Bukan menjadi seorang ibu guru yang disegani. Aku mengajar di dua tempat yaitu di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di pedalaman. Banyak yang mengira aku bekerja hanya karena materi semata. Karena mengajar di dua tempat. Andai mereka tahu, kalau hanya karena materi mungkin sudah lama aku resign dari pekerjaanku. Andai mereka tahu, gajiku tak sebanding dengan pengeluaranku. Andai mereka tahu, upah yang ku dapat hanya sebesar Rp.300.000,00 Per bulan. Jika bukan karena niatku untuk membagi ilmu yang ku dapat di bangku kuliah mungkin aku akan menyerah.
Melihat anak didik ku bisa menang lomba story telling Bahasa Inggris, lomba pidato Bahasa Indonesia, juara Olimpiade Tingkat Kabupaten dalam bidang biologi, kimia, ekonomi dan  kebumian,  serta  juara  duet  gitaris  tingkat  Kabupaten. Rasanya aku terlalu malu untuk
mengucapkan kata menyerah di depan mereka yang tetap semangat berjuang di dalam keterbatasan.
Tempat ku mengajar jauh dari kata layak dalam segi fasilitas, karna jauh dari pusat kota. Pemerintah menerapkan kurikulum 2013 tetapi pada penerapannya belum banyak sekolah yang siap karena kadang penyebaran bantuan tidak merata atau terambat oleh jarak.
Bukankah tolak ukur dari suatu negara adalah pendidikannya?. Semakin berkualitas pendidikan di suatu negara maka akan semakin banyak negara tersebut mencetak       generasi-generasi milenial. Karena pendidikan formal dimulai dari SD hingga bangku kuliah.
Terkadang terlalu banyak orang yang meremehkan guru honorer. Termasuk siswa itu sendiri. Padahal mereka sudah mengabdi dengan sepenuh jiwa, setulus hati, tetap saja tidak dihargai. Miris ketika melihat berita yang beredar di media sosial dan televisi tentang kelakuan pelajar yang tidak mencerminkan seorang pelajar seperti membully gurunya, memukul gurunya, bahkan mengadukan gurunya ke kantor polisi.
Menerapkan pendidikan berkarakter memang banyak rintangan yang harus dihadapi. Karena kalau seorang guru hanya mencetak siswa yang pintar tanpa akhlak maka akan banyak menambah pendusta, diktator dan koruptor di Indonesia di masa mendatang. Tetapi jika guru mencetak siswa yang cerdas dan biasa-biasa saja tapi mempunyai akhlak mungkin Indonesia akan menjadi negara maju di tahun 2045.
Tidak selamanya kekayaan mampu membeli kebahagiaan, itu benar! Memilih sebuah pekerjaan yang bisa memberikan jaminan masa depan, tapi melupakan bahwa kekayaan dan kekuasaan bisa memberikan kekuatan untuk seseorang melakukan segalanya, termasuk   sikut-menyikut. Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk membuat seseorang menghargaiku. Aaku juga tidak perlu mengawasi kehidupan seseorang selama 24 jam hanya untuk mendapat kepercayaan dan pujian.
Rasa cinta, tulus dan ikhlas adalah sesuatu yang sangat berharga karena tidak bisa di beli dengan uang. Senja memang terlihat indah karena memancarkan ronanya, tapi hanya pengorbananlah yang akan mampu membuat dunia kita berwarna. Jika saat ini kita belum menemukan tempat yang nyaman bukan berarti cerita kehidupan ini sudah berakhir.
JAYALAH PENDIDIKAN INDONESIA!!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEHANCUR ITU AKU PERNAH Karya Brian Khrisna

Aku pernah hancur karena terlalu percaya Pernah juga patah karena memilih orang yang salah Aku pernah terkubur dalam-dalam di hati seseorang Yang kuselami dengan niat untuk bisa ku mengerti Aku pernah memutuskan berjuang Untuk hati yang memperjuangkan orang lain Aku pernah tercerai berai ketika kasihku tak sampai Aku pernah tertusuk pecahan hatiku sendiri Ketika sedang menyusun lalu kau datang lagi Aku pernah terjatuh dua kali Karena ceroboh memberikan kesempatan Aku pernah ditinggalkan karena menunggu Aku juga pernah dihakimi karena melindungi Aku pernah ditinggal pergi karena tak cukup memberi Aku pernah ditikam karena terlalu jujur pada hati sendiri Aku pernah disalahkan karena berbicara yang sebenarnya Aku pernah disuruh menunggu ketika ia tengah menunggu orang lain Aku pernah seperti itu Sehancur itu aku pernah berjuang Berkali-kali bangkit hanya untuk kembali di hancurkan Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku pernah sehancur itu Jika kau...

SI MERAH

    Mistis, mungkin kata itu masing menjadi topik yang sangat sering kita perbincangkan saat ini. Ada golongan orang mempercayai keberadaan mereka, ada juga yang pura-pura tidak percaya karena takut, ada juga yang tidak percaya sama sekali tentang keberdaan makhluk gaib. Jurusanku sangat terkenal akan kehororannya. Banyak sekali aku mendengar cerita-cerita menyeramkan dari kakak tingkat, baik itu cerita turun-temurun dari angkatan-angkatan terdahulu, atau pengalaman pribadi saat mereka berada di jurusan. Aku kuliah disalah satu Universitas Negeri yang ada di Sumatera Selatan, kampus kuning adalah identitas dari universitaku, dan ciri dari Fakultasku adalah dengan warna Orange-nya. Jurusanku sangat akrab dengan hewa, tumbuhan, dan bakteri. Orang bilang, kami adalah dokter untuk makhluk hidup. Jurusanku terdiri tiga lantai, lantai pertama ada ruangan dosen dan tata usaha, laboratorium Ekologi, Laboratorium komputer, ruang seminar, perpustakaan jurusan dan toilet untuk Dose...

Pembuatan Preparat Daun Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) Karya Desti Ayu, S.Si

Penampakan stomata pada saat membuat preparat mata kuliah mikroteknik (Dokumen Pribadi, 2016)   MIKROTEKNIK        Mikroteknik merupakan suatu ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan mata terbuka biasa tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Banyak metode dalam mikroteknik, diantaranya metode geser, metode maserasi, metode kayu, metode squash, metode parafin, dan metode whole mount (Fransisca, 2012).      Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik, untuk klasifikasi praktis. Bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras. Spesimen tumbuhan yang sedang tumbuh maupun yang sedang dalam pr...