Merasakan patah hati
sudah kenyang rasanya, tentang sakit hati yang tak terbendung rasa berkecamuk
di dalam dada, cinta sendirian yang membabi buta, hiruk pikuk yang entah apa
lagi akan terjadi. Begitu banyak tragedi yang datang silih berganti, entah itu
sebagai bentuk teguran, atau ujian semata menuju proses kedewasaan. Apakah
kalian tau rasanya cinta sendirian?. Memendam perasaan bertahun-tahun lamanya untuk
seseorang yang kadang tak mengharapkan kehadiran kita, atau seolah tak
menyadari segala bentuk apapun yang kita perbuat untuknya. Kadang memang
terkesan bodoh, sering kali menguatkan diri sendiri dengan ekspetasi yang tak
pasti, dan berbanding terbalik dengan realita, meyakinkan hati untuk selalu
teguh dan kuat bahwa cinta akan terbentuk dari rasa saling menghargai dan
berjuang satu sama lain.
Akankah kau paham
sekarang?, sudah terlalu jauh kamu menyiksa dirimu sendiri dengan
harapan-harapan semu yang kau bentuk sendiri di dalam fantasi kepingan memori
di otakmu itu. Andai kau tau, patah hati paling sengaja yang pernah aku lakukan
adalah membiarkan hatiku jatuh begitu saja kepadamu, tanpa tau apakah kau
menyambutnya atau tidak. Yang jelas berada disisimu sudah membuatku nyaman
walau sesaat.
Tak terhitung purnama
yang kulewati bersama dengan aroma harum tubuhmu, dikala dengan setia menemani
rutinitasku yang kadang tak masuk diakal pikiranmu. Pernah kau bertanya, apakah
warna putih yang tumbuh di atas agar-agar di cawan petri itu adalah bakteri?.
Aku tersenyum, sembari menjawab, ya itu bakteri yang akan aku inokulasikan ke
tabung reaksi. Lucu tingkahmu saat itu, refleks langsung menjauh dan mencuci
tangan takut terkontaminasi dengan bakteri. Padahal tidak semua bakteri itu
menimbulkan penyakit. Contohnya bakteri Lactobacillus bulgaricus yang digunakan untuk membuat susu asam.
Apa pentingnya sih menghitung bakteri?. Pertanyaan spontan yang keluar dari
bibir manismu. “dari menghitung bakteri kita akan tau berapa jumlah dan pertumbuhannya”.
Kau hanya mengangguk entah tanda mengerti atau hanya mempersingkat pembicaraan.
Tanpa diduga kebersamaan membuatku begitu nyaman tentang
kehadiran dirimu, memaksakan keinginanku bahwa tak seharusnya seorang sahabat
bertingkah selayaknya orang yang saling memahami dan memberi bukan malah saling
mengasihi. Tanpa sadar aku menyodorkan hatiku padamu dengan sengaja, tapi tak
pernah kau lihat sedikitpun apa lagi berniat mengambilnya. Aku yang terlalu
perasa, mengartikan sikapmu adalah cinta. Aku yang terlalu percaya diri
menganggap aku orang yang kau cintai. Ah, sial lagi-lagi aku dilukai oleh
harapan yang ku bangun sendiri.
Kau pernah bercerita tentang sosok yang membuat hubunganmu
dengan tuhan jadi renggang. Dia selalu saja merasuki dan menjalar dengan
menggebu-gebu di pikiranmu, kau sangat menyayanginya, dan kau akan memintanya
menjadi ratu di istanamu suatu saat nanti, bahkan untuk menjadi ibu dari
anak-anakmu. Hingga kau siap menemui walinya. Lucu memang, hubungan kalian
hanya bertahan seumur jagung. Kau memilih menyerah dan mundur perlahan atas
dirinya. Karena kamu menyadari bahwa mencintainya membuat sholatmu jadi tak
khusyu’. Membuat pikiranmu menjadi dipenuhi fantasi tentang dirinya. Tapi tetap
saja, kamu bilang menjauh bukan berarti tak ingin mengambilnya kembali. Kau hanya memberi hatimu jeda dan
memantaskan
diri untuk bersamanya nanti.
Andai kau tau, betapa hancurnya hatiku berkeping-keping
mendapati kenyataan bahwa yang kau pilih dia, bukan aku. Pertemuanmu dengannya
yang cuma beberapa bulan saja, dengan mudahnya meluluhkan hatimu. Sedangkan
aku, yang bertahun-tahun berada disampingmu hanya kau anggap sahabat saja, sama
seperti teman wanitamu yang lain.
Andai kau tau, aku selalu menyembunyikan perasaanku
terhadapmu lewat persabatan ini. Ternyata benar adanya sebuah pepatah, tidak
ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Pastilah
diantaranya ada yang memendam rasa tanpa melibatkan logika. Apakah ini yang
dinamakan friendzone?. Salah satu
seorang sahabat yang memendam rasa dan menginginkan hubungan yang lebih
sedangkan yang satunya lagi tidak menginginkannya.
Aku memilih menyembunyikan rasa sakitku dan memilih pergi
menjauh untuk sementara. Menata kembali hatiku yang sedang porak-poranda. Aku
juga butuh waktu untuk mengembalikan kehidupan normal tanpa kehadiran sosokmu. Kini
aku telah memahami, kenapa sakit ini tak lekas mereda dan tak kunjung terobati.
Sebab akulah yang dengan sengaja membiarkannya terluka tanpa ada niat berusaha
untuk menyembuhkannya. Aku memang bodoh masih memendam cinta
sendirian. kamu tak salah, aku yang terlalu betah menyimpan semua kilas balik
tentang kita.
Untuk kamu yang kusebut
kenangan, sekarang aku tau semua yang diinginkan tak harus
didapatkan, bisa dijadikan
pelajaran membentuk kebahagiaan. Dariku
yang pernah berharap dengan pendirian.

Jangan terlarut dan terjebak di zona itu terus ya bu, kkeluarlah dari zona nyamanmu. . Pasrahkan saja, jodoh tak akan kemana. I miss u bu guru yg imut dan nyenyess😘
BalasHapusMiss you too kun 😍 doain ya semoga happy ending 🌸🌸
BalasHapus