Siang
ini matahari benar-benar tidak bersahabat, panas yang terik seolah-olah ia
hanya berada satu meter tepat di atas kepala ku dan ayah yang sedang melaut. Namaku
Ashifa Desti Almira. Orang bilang, aku gadis yang sangat cantik dan manis, ditambah lagi lesung pipi yang menghiasi wajahku. Tapi tidak dengan Ibuku, mungkin
dia sangat kecewa mempunyai anak
perempuan sepertiku, karena aku sangat bandel dan susah diatur. Tidak bagi
ayah, tentu saja aku anak emasnya yang paling didamba. Ayah selalu punya cara
untuk menjelaskan kesalahan tanpa amarah. Beliau juga selalu membebaskan, tanpa
melepaskan untuk memilih banyak hal. Ayah bilang, kita tidak boleh takut dengan
apapun kecuali dengan Allah. Tetapi ternyata ayah salah, aku tetap saja takut
dimarahi ibu jika berbuat salah. Cuma ayah yang paham akan mimpiku, untuk
melanjutkan SMA ke kota yang menjadi favorit.
Ternyata
Allah berkata lain, aku tidak bisa melanjutkan ke SMA Favoritku. Itu disebabkan
oleh nilai tes ku yang tidak lulus. Ibu menyuruhku melanjutkan untuk masuk ke
pesantren. Tentu saja aku menolaknya dengan banyak alasan karena, aku tidak mau
masuk pesantren.
“pokoknya ibu ingin
kamu melanjutkan sekolah ke pesantren yang biayanya terjangkau. Sekolah swasta itu
mahal, keluarga kita tidak akan sanggup untuk membiayai kamu”
“tapi bu, aku tidak mau
masuk pesatren. Kalau aku masuk pesantren aku akan jauh dari kalian, dan hanya
libur sekolah saja, bisa pulang ke rumah”
Tiba-tiba, ayah yang
sedang melihat kami sedang berdebat, ikut memberi masukan
“Ashifa, benar kata
ibumu, kami takkan sanggup untuk membiayai kamu ke sekolah swasta, jadi kamu
lanjut sekolah ke pesantren saja ya nak.”
Dengan susah payah ayah
membujukku untuk melanjutkan sekolah ke pesantren dan itu berhasil. Aku
terpaksa mengatakan setuju kepada orang tua ku untuk melanjutkan sekolah ke
pesantren.
Untuk
masuk pesantren ada tes akademik dan juga tes membaca al-quran. Akhirnya Aku
diterima di pesantren, dengan berat hati, harus meninggalkan keluarga dan jauh
dari rumah, serta harus belajar mandiri. Ayah dan ibu mengantarku ke depan
pintu gerbang pesantren, kulihat raut wajah mereka yang tampak sedih melepas
kepergianku. Berbekalkan satu koper dan satu ransel, itulah barang-barang yang
aku bawa untuk menjalani kisah di sini.
Setelah
mendapatkan pembagian kamar dari ustadzah Nabila, ternyata aku sekamar dengan
tiga santri baru lainnya. Mereka adalah Rizka dari Bandung, Dita dari Aceh, dan
Lingga dari Padang. Kami lalu merapikan pakaian, serta barang-barang yang kami
bawa ke dalam lemari. Kemudian merapikan kasur, setelah itu istirahat sebentar
untuk sekedar mengambil napas akibat kelelahan merapikan asrama baru.
Adzan
magrib telah berkumandang, kakak asuh pun sibuk menggiring kami, untuk segera
memakai mukenah dan pergi ke masjid melaksanakan sholat berjamaah. Celakanya
aku yang tertinggal di belakang, dan salah memasuki, serta melewati tempat
wudhu untuk santri laki-laki. Menurut ku itu pengalaman yang paling memalukan.
Sesampainya di masjid rona wajahku tetap saja menjadi merah. Tentu saja itu
mencuri perhatian teman baru di kamar asrama ku.
“Kenapa muka kamu merah
Ashifa” tegur Rizka. “Tidak apa-apa kok” jawab ku.
Sholat
subuh di masjid adalah rutinitas yang harus dikerjakan, dan jika kami mengantuk,
dengan cepat kakak asuh mengibaskan sejadah ke arah belakang kami atau ke bahu.
Diantara kami, sering kali yang selalu terlambat dalam hal apapun adalah aku.
Contohnya sekarang, aku tidak dapat jatah makan siang karena, terlalu lama
berganti pakaian. “Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk membuang-buang
waktu. Kamu harus belajar dari kesalahan kamu Ashifa” ucap Ustadzah Nabila.
“Akan kah aku sanggup
tetap bertahan di tempat ini?”
Sebagai
generasi yang milenial, kebanyakan santri baru sangat antusias untuk belajar.
Hidup dipesantren, kita akan sering menyaksikan belajar dimana saja, dalam
posisi apa saja, bahkan di tempat yang tak terduga. Pada bulan pertama, aku
sangat tersiksa dan tidak nyaman dengan pertaturan yang diterapkan oleh
pesantren. Semuanya diatur oleh pesantren. Dari mulai bangun tidur, makan, dan
juga sholat. Pernah kami merencanakan ide gila, untuk memanjat pohon mangga
yang ada di depan asrama. Karena buah mangga tersebut sangat menggiurkan.
Akhirnya aku pun memanjat pohon mangga pada malam hari, sedangkan teman yang
lain, menunggu di bawah sambil mengawasi situasi. Tapi naasnya, setelah buah
mangga kujatuhkan kepada mereka, ternyata ustadzah Nabila masih mengaji di
masjid. Tentu saja langsung membuat teman-temanku berlari terbirit-birit menuju
ke dalam kamar asrama. Tiba-tiba Rizka kembali lagi, dan memanggil ku,
“Ashiiiiifaaaa... Terkadang kesendirian itu lebih menyenangkan dari pada
keramaian, selamat berjuang”. Itulah Rizka, masih sempat-sempatnya dia meledek ku. Di
sini lah aku sekarang, sendirian di atas pohon mangga. Nasib baik masih berpihak
kepada ku. Ustadzah Nabila tidak melihat ku di atas pohon, pada saat dia lewat.
Akhirnya aku bisa turun dengan selamat tanpa mendapat hukuman.
Pada
bulan ke dua, aku mulai meyukai rutinitas yang dilakukan di pesantren. Aku yang
biasanya sangat badung, lambat laun berubah menjadi santri yang taat dan
berakhlak. Aku adalah santri milenial. Dan santri milenial itu tidak pernah
meninggalkan sholat setiap saat. Melangkahkan kaki ke masjid untuk menjalankan
ibadah sholat berjamaah. Kami santri milenial memang sering memanfaatkan
internet, tapi tenang saja, kami juga tau, mana waktu untuk internetan, mana
waktunya mengaji. Jika santri lain memanfaatkan waktu liburnya untuk
bersenang-senang, lain hal nya dengan aku dan sahabatku. Kita menghabiskannya
untuk berkumpul di masjid, untuk melanjutkan hafalan atau sekedar mengaji.
Setelah itu biasanya kami akan berkumpul untuk kerja kelompok atau membahas
pelajaran yang belum dimengerti di dalam kelas.
Makin
hari bersahabatan kami makin akrab. Dita, yang memiliki sifat keibuan, sehingga
sangat nyaman jika meminta saran dengan dia. Rizka, gadis cantik yang satu ini,
memiliki sifat yang tegas tetapi juga baik hati. Lingga, merupakan gadis
berbadan kecil dan imut yang memakai kacamata, memiliki sifat yang sangat
lembut dan penurut. Sedangkan aku sendiri, gadis manis yang memiliki sifat
pantang menyerah dan keras kepala. Karena kami semua beragam sifat dan bentuk
fisik, akhirnya kami membuat grup dengan nama “Little Sweet”. Filosofi nya
diambil dari karakter Dita dan aku yang manis, sedangkan Rizka dan Lingga yang
kecil dan imut. Maka terciptalah nama “Little Sweet” menjadi grup kami.
Terkadang
aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena sudah
dipertemukan dengan sahabat yang sangat baik. Kami selalu berbagi suka dan
duka. Pernah pada suatu ketika, kita membahas apa yang akan dilakukan setelah
lulus dari pesantren. Dita ingin jadi lulusan terbaik, agar dia bisa bekerja
dipesantren ini, dan sedikit meringankan beban umi nya dalam mencari uang.
Sedangkan aku ingin melanjutkan kuliah sastra dan menikah. Mungkin akan
menyenangkan menjadi ibu rumah tangga dan penulis novel. Rizka ingin menjadi
desainer, sedangan Lingga ingin penjadi pelukis terkenal.
Di
pesantren Dita mengikuti organisasi Pramuka, Rizka dan Lingga mengikuti
organisiasi pencak silat, sedangkan aku mengikuti organisasi jurnalistik. Aku
pernah mendapat tugas untuk meliput pertandingan pencak silat tingkat nasional
yang diikuti oleh salah satu santri dari pesantren ku. Aku juga pernah
mengikuti lomba menulis tingkat nasional mewakili pesantren. Alhamdulilah
tulisanku menjadi yang terbaik. Dan mendapatkan hadiah tiket jalan-jalan ke
Sulawesi, untuk meliput keanekaragaman hayati disana.
Dua
minggu sebelum ulangan semester, aku mendapat telepon dari rumah. Bagai
disambar petir di siang yang cerah, aku mendapatkan kabar yang sangat tak
terduga. Ayah meninggal, itulah kata yang diucapkan ibu lewat telepon. Kata itu
terngiang-ngiang di kepala ku. Tubuh ku lemas seketika, air mata tak terbendung
lagi hingga bercucuran, tangan terkulai lemas dan gemetar. Setelah pemakaman
ayahku selesai, aku kembali lagi ke pesantren. Sesampainya aku
disana, dengan setia
Dita, Rizka dan Lingga menguatkan
ku. Pundak
mereka selalu ada untuk
menumpahkan air mata kesedihan yang masih berlabuh.
Entah
apa yang aku pikirkan hingga terbesit untuk melarikan diri dari pesantren. Aku
mengajak Rizka untuk kabur dari pesantren, karena sudah tidak tahan dengan
permasalahan yang aku hadapi. Rizka pun merasakan hal yang sama, banyak sekali
tugas yang harus kami kerjakan, belum lagi hapalan, pidato bahasa inggris,
cucian pakaian yang sudah menumpuk. Akhirnya aku dan Rizka mempunyai rencana
untuk kabur dengan alasan mau pergi ke apotek membeli obat asma untuk Rizka.
Tentu saja dengan alibi yang kami punya, ustadzah Nabila mengizinkan kami pergi
ke apotek. Di dalam angkot aku menyuruh Rizka untuk melihat alamat rumah
tantenya. Dan cerobohnya Rizka meninggalkannya di meja kamar asrama. Akhirnya
kami terpaksa berhenti di depan masjid dan duduk sebentar sambil membeli minum.
Pada saat mau membayar, ternyata dompet ku hilang. Aku menjadi korban copet di
dalam angkot.
Tanpa
sadar, aku melihat ustadzah Nabila berjalan menuju ke arah kami, tentu saja itu
membuat jantung kami berdegup tak menentu. Kulihat ada mobil pick up yang mebawa sembako dengan di
tutupi terpal, itulah cara terakhir agar kami selamat, terpaksa harus
bersembunyi di dalam mobil pick up
tersebut. Dengan cepat ku tarik tangan Rizka untuk segera mengikutiku menaiki
mobil pick up. Tanpa kami sadari,
ternyata mobil itu mulai melaju. Karena supirnya sangat kencang mengendarainya,
sehingga kami tidak berani untuk melompat dari mobil. Aku dan Rizka sudah
pasrah, entah kemana berhenti mobil ini nantinya membawa kami. Di perjalanan kami
tertidur pulas, dan alangkah terkejutnya ketika membuka mata. Ternyata mobil
yang kami tumpangi berada di pesantren.
Mungkin
ini rencana Allah untuk menyadarkan aku dan Rizka bahwa yang kami lakukan itu
salah. Tentu saja kami dengan tergesah-gesah menghadap ustadzah Nabila, dan
menjelaskan situasi yang terjadi. Di luar dugaan, ustadzah Nabila tidak
memarahi atau menghukum kami, dia malah menyuruh kami istirahat di kamar. Dita
dan Lingga sangat marah denganku dan Rizka. Karena menurut mereka, sikap kami
sudah di luar kendali. Dengan menggebu-gebu Dita dan Lingga secara bergantian
menguatkan dan menasehati kami. Agar betah tinggal di pesantren dan fokus untuk
menghadapi ulangan semester yang tinggal satu minggu lagi.
Memanfaatkan
waktu yang tinggal sedikit, kami memutuskan untuk membuat jadwal belajar ekstra
setiap malam, dalam rangka persiapan ulangan semester. Tiap malam secara
bergantian, kami menjadi tutor sebaya membahas materi yang kurang kami pahami
di kelas. Hari ulangan semester pun tiba. Dengan suka cita aku mulai membaca
soal dan mulai mengerjakan. MasyaAllah ternyata
materi yang kami pelajari
ada di soal ulangan. Semoga
saja aku bisa masuk
menjadi tiga santri terbaik.
Hari
pembagian hasil ulangan pun telah tiba. Aku sangat harap-harap cemas, adakah
nama ku di sana?. Di urutan ke tiga ada Afif, urutan kedua adalah Dita.
Sekarang buya tinggal menyebutkan urutan pertama santri terbaik. Tanpa di duga
ternyata namaku yang disebut. Perjuanganku di pesantren berbuah manis,
alhamdulilah aku mendapatkan nilai terbaik, dengan rata-rata 85,50. Allah itu
baik, DIA tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena
menjadi lulusan terbaik inilah, aku mendapat julukan santri milenial di
kalangan santri lain, ustadz dan ustadzah di pesantren.

Komentar
Posting Komentar