Langsung ke konten utama

Little Sweet Karya: Desti Ayu, S. Si




Siang ini matahari benar-benar tidak bersahabat, panas yang terik seolah-olah ia hanya berada satu meter tepat di atas kepala ku dan ayah yang sedang melaut. Namaku Ashifa Desti Almira. Orang bilang, aku gadis yang sangat cantik dan manis, ditambah lagi lesung pipi yang menghiasi wajahku. Tapi tidak dengan Ibuku, mungkin dia sangat  kecewa mempunyai anak perempuan sepertiku, karena aku sangat bandel dan susah diatur. Tidak bagi ayah, tentu saja aku anak emasnya yang paling didamba. Ayah selalu punya cara untuk menjelaskan kesalahan tanpa amarah. Beliau juga selalu membebaskan, tanpa melepaskan untuk memilih banyak hal. Ayah bilang, kita tidak boleh takut dengan apapun kecuali dengan Allah. Tetapi ternyata ayah salah, aku tetap saja takut dimarahi ibu jika berbuat salah. Cuma ayah yang paham akan mimpiku, untuk melanjutkan SMA ke kota yang menjadi favorit.
Ternyata Allah berkata lain, aku tidak bisa melanjutkan ke SMA Favoritku. Itu disebabkan oleh nilai tes ku yang tidak lulus. Ibu menyuruhku melanjutkan untuk masuk ke pesantren. Tentu saja aku menolaknya dengan banyak alasan karena, aku tidak mau masuk pesantren.
“pokoknya ibu ingin kamu melanjutkan sekolah ke pesantren yang biayanya terjangkau. Sekolah swasta itu mahal, keluarga kita tidak akan sanggup untuk membiayai kamu”
“tapi bu, aku tidak mau masuk pesatren. Kalau aku masuk pesantren aku akan jauh dari kalian, dan hanya libur sekolah saja, bisa pulang ke rumah”
Tiba-tiba, ayah yang sedang melihat kami sedang berdebat, ikut memberi masukan
“Ashifa, benar kata ibumu, kami takkan sanggup untuk membiayai kamu ke sekolah swasta, jadi kamu lanjut sekolah ke pesantren saja ya nak.”
Dengan susah payah ayah membujukku untuk melanjutkan sekolah ke pesantren dan itu berhasil. Aku terpaksa mengatakan setuju kepada orang tua ku untuk melanjutkan sekolah ke pesantren.
Untuk masuk pesantren ada tes akademik dan juga tes membaca al-quran. Akhirnya Aku diterima di pesantren, dengan berat hati, harus meninggalkan keluarga dan jauh dari rumah, serta harus belajar mandiri. Ayah dan ibu mengantarku ke depan pintu gerbang pesantren, kulihat raut wajah mereka yang tampak sedih melepas kepergianku. Berbekalkan satu koper dan satu ransel, itulah barang-barang yang aku bawa untuk menjalani kisah di sini.
Setelah mendapatkan pembagian kamar dari ustadzah Nabila, ternyata aku sekamar dengan tiga santri baru lainnya. Mereka adalah Rizka dari Bandung, Dita dari Aceh, dan Lingga dari Padang. Kami lalu merapikan pakaian, serta barang-barang yang kami bawa ke dalam lemari. Kemudian merapikan kasur, setelah itu istirahat sebentar untuk sekedar mengambil napas akibat kelelahan merapikan asrama baru.
Adzan magrib telah berkumandang, kakak asuh pun sibuk menggiring kami, untuk segera memakai mukenah dan pergi ke masjid melaksanakan sholat berjamaah. Celakanya aku yang tertinggal di belakang, dan salah memasuki, serta melewati tempat wudhu untuk santri laki-laki. Menurut ku itu pengalaman yang paling memalukan. Sesampainya di masjid rona wajahku tetap saja menjadi merah. Tentu saja itu mencuri perhatian teman baru di kamar asrama ku.
“Kenapa muka kamu merah Ashifa” tegur Rizka. “Tidak apa-apa kok” jawab ku.
Sholat subuh di masjid adalah rutinitas yang harus dikerjakan, dan jika kami mengantuk, dengan cepat kakak asuh mengibaskan sejadah ke arah belakang kami atau ke bahu. Diantara kami, sering kali yang selalu terlambat dalam hal apapun adalah aku. Contohnya sekarang, aku tidak dapat jatah makan siang karena, terlalu lama berganti pakaian. “Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk membuang-buang waktu. Kamu harus belajar dari kesalahan kamu Ashifa” ucap Ustadzah Nabila.
“Akan kah aku sanggup tetap bertahan di tempat ini?”
Sebagai generasi yang milenial, kebanyakan santri baru sangat antusias untuk belajar. Hidup dipesantren, kita akan sering menyaksikan belajar dimana saja, dalam posisi apa saja, bahkan di tempat yang tak terduga. Pada bulan pertama, aku sangat tersiksa dan tidak nyaman dengan pertaturan yang diterapkan oleh pesantren. Semuanya diatur oleh pesantren. Dari mulai bangun tidur, makan, dan juga sholat. Pernah kami merencanakan ide gila, untuk memanjat pohon mangga yang ada di depan asrama. Karena buah mangga tersebut sangat menggiurkan. Akhirnya aku pun memanjat pohon mangga pada malam hari, sedangkan teman yang lain, menunggu di bawah sambil mengawasi situasi. Tapi naasnya, setelah buah mangga kujatuhkan kepada mereka, ternyata ustadzah Nabila masih mengaji di masjid. Tentu saja langsung membuat teman-temanku berlari terbirit-birit menuju ke dalam kamar asrama. Tiba-tiba Rizka kembali lagi, dan memanggil ku, “Ashiiiiifaaaa... Terkadang kesendirian itu lebih menyenangkan dari pada keramaian, selamat berjuang”. Itulah Rizka, masih sempat-sempatnya dia meledek ku. Di sini lah aku sekarang, sendirian di atas pohon mangga. Nasib baik masih berpihak kepada ku. Ustadzah Nabila tidak melihat ku di atas pohon, pada saat dia lewat. Akhirnya aku bisa turun dengan selamat tanpa mendapat hukuman.
Pada bulan ke dua, aku mulai meyukai rutinitas yang dilakukan di pesantren. Aku yang biasanya sangat badung, lambat laun berubah menjadi santri yang taat dan berakhlak. Aku adalah santri milenial. Dan santri milenial itu tidak pernah meninggalkan sholat setiap saat. Melangkahkan kaki ke masjid untuk menjalankan ibadah sholat berjamaah. Kami santri milenial memang sering memanfaatkan internet, tapi tenang saja, kami juga tau, mana waktu untuk internetan, mana waktunya mengaji. Jika santri lain memanfaatkan waktu liburnya untuk bersenang-senang, lain hal nya dengan aku dan sahabatku. Kita menghabiskannya untuk berkumpul di masjid, untuk melanjutkan hafalan atau sekedar mengaji. Setelah itu biasanya kami akan berkumpul untuk kerja kelompok atau membahas pelajaran yang belum dimengerti di dalam kelas.
Makin hari bersahabatan kami makin akrab. Dita, yang memiliki sifat keibuan, sehingga sangat nyaman jika meminta saran dengan dia. Rizka, gadis cantik yang satu ini, memiliki sifat yang tegas tetapi juga baik hati. Lingga, merupakan gadis berbadan kecil dan imut yang memakai kacamata, memiliki sifat yang sangat lembut dan penurut. Sedangkan aku sendiri, gadis manis yang memiliki sifat pantang menyerah dan keras kepala. Karena kami semua beragam sifat dan bentuk fisik, akhirnya kami membuat grup dengan nama “Little Sweet”. Filosofi nya diambil dari karakter Dita dan aku yang manis, sedangkan Rizka dan Lingga yang kecil dan imut. Maka terciptalah nama “Little Sweet” menjadi grup kami.
Terkadang aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena sudah dipertemukan dengan sahabat yang sangat baik. Kami selalu berbagi suka dan duka. Pernah pada suatu ketika, kita membahas apa yang akan dilakukan setelah lulus dari pesantren. Dita ingin jadi lulusan terbaik, agar dia bisa bekerja dipesantren ini, dan sedikit meringankan beban umi nya dalam mencari uang. Sedangkan aku ingin melanjutkan kuliah sastra dan menikah. Mungkin akan menyenangkan menjadi ibu rumah tangga dan penulis novel. Rizka ingin menjadi desainer, sedangan Lingga ingin penjadi pelukis terkenal.
Di pesantren Dita mengikuti organisasi Pramuka, Rizka dan Lingga mengikuti organisiasi pencak silat, sedangkan aku mengikuti organisasi jurnalistik. Aku pernah mendapat tugas untuk meliput pertandingan pencak silat tingkat nasional yang diikuti oleh salah satu santri dari pesantren ku. Aku juga pernah mengikuti lomba menulis tingkat nasional mewakili pesantren. Alhamdulilah tulisanku menjadi yang terbaik. Dan mendapatkan hadiah tiket jalan-jalan ke Sulawesi, untuk meliput keanekaragaman hayati disana.
Dua minggu sebelum ulangan semester, aku mendapat telepon dari rumah. Bagai disambar petir di siang yang cerah, aku mendapatkan kabar yang sangat tak terduga. Ayah meninggal, itulah kata yang diucapkan ibu lewat telepon. Kata itu terngiang-ngiang di kepala ku. Tubuh ku lemas seketika, air mata tak terbendung lagi hingga bercucuran, tangan terkulai lemas dan gemetar. Setelah pemakaman ayahku selesai, aku kembali lagi ke pesantren. Sesampainya   aku   disana,   dengan  setia  Dita,  Rizka dan Lingga menguatkan ku. Pundak
mereka selalu ada untuk menumpahkan air mata kesedihan yang masih berlabuh.
Entah apa yang aku pikirkan hingga terbesit untuk melarikan diri dari pesantren. Aku mengajak Rizka untuk kabur dari pesantren, karena sudah tidak tahan dengan permasalahan yang aku hadapi. Rizka pun merasakan hal yang sama, banyak sekali tugas yang harus kami kerjakan, belum lagi hapalan, pidato bahasa inggris, cucian pakaian yang sudah menumpuk. Akhirnya aku dan Rizka mempunyai rencana untuk kabur dengan alasan mau pergi ke apotek membeli obat asma untuk Rizka. Tentu saja dengan alibi yang kami punya, ustadzah Nabila mengizinkan kami pergi ke apotek. Di dalam angkot aku menyuruh Rizka untuk melihat alamat rumah tantenya. Dan cerobohnya Rizka meninggalkannya di meja kamar asrama. Akhirnya kami terpaksa berhenti di depan masjid dan duduk sebentar sambil membeli minum. Pada saat mau membayar, ternyata dompet ku hilang. Aku menjadi korban copet di dalam angkot.
Tanpa sadar, aku melihat ustadzah Nabila berjalan menuju ke arah kami, tentu saja itu membuat jantung kami berdegup tak menentu. Kulihat ada mobil pick up yang mebawa sembako dengan di tutupi terpal, itulah cara terakhir agar kami selamat, terpaksa harus bersembunyi di dalam mobil pick up tersebut. Dengan cepat ku tarik tangan Rizka untuk segera mengikutiku menaiki mobil pick up. Tanpa kami sadari, ternyata mobil itu mulai melaju. Karena supirnya sangat kencang mengendarainya, sehingga kami tidak berani untuk melompat dari mobil. Aku dan Rizka sudah pasrah, entah kemana berhenti mobil ini nantinya membawa kami. Di perjalanan kami tertidur pulas, dan alangkah terkejutnya ketika membuka mata. Ternyata mobil yang kami tumpangi berada di pesantren.
Mungkin ini rencana Allah untuk menyadarkan aku dan Rizka bahwa yang kami lakukan itu salah. Tentu saja kami dengan tergesah-gesah menghadap ustadzah Nabila, dan menjelaskan situasi yang terjadi. Di luar dugaan, ustadzah Nabila tidak memarahi atau menghukum kami, dia malah menyuruh kami istirahat di kamar. Dita dan Lingga sangat marah denganku dan Rizka. Karena menurut mereka, sikap kami sudah di luar kendali. Dengan menggebu-gebu Dita dan Lingga secara bergantian menguatkan dan menasehati kami. Agar betah tinggal di pesantren dan fokus untuk menghadapi ulangan semester yang tinggal satu minggu lagi.
Memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit, kami memutuskan untuk membuat jadwal belajar ekstra setiap malam, dalam rangka persiapan ulangan semester. Tiap malam secara bergantian, kami menjadi tutor sebaya membahas materi yang kurang kami pahami di kelas. Hari ulangan semester pun tiba. Dengan suka cita aku mulai membaca soal dan mulai mengerjakan. MasyaAllah  ternyata  materi  yang  kami  pelajari ada di soal ulangan. Semoga
saja aku bisa masuk menjadi tiga santri terbaik.
Hari pembagian hasil ulangan pun telah tiba. Aku sangat harap-harap cemas, adakah nama ku di sana?. Di urutan ke tiga ada Afif, urutan kedua adalah Dita. Sekarang buya tinggal menyebutkan urutan pertama santri terbaik. Tanpa di duga ternyata namaku yang disebut. Perjuanganku di pesantren berbuah manis, alhamdulilah aku mendapatkan nilai terbaik, dengan rata-rata 85,50. Allah itu baik, DIA tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena menjadi lulusan terbaik inilah, aku mendapat julukan santri milenial di kalangan santri lain, ustadz dan ustadzah di pesantren.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEHANCUR ITU AKU PERNAH Karya Brian Khrisna

Aku pernah hancur karena terlalu percaya Pernah juga patah karena memilih orang yang salah Aku pernah terkubur dalam-dalam di hati seseorang Yang kuselami dengan niat untuk bisa ku mengerti Aku pernah memutuskan berjuang Untuk hati yang memperjuangkan orang lain Aku pernah tercerai berai ketika kasihku tak sampai Aku pernah tertusuk pecahan hatiku sendiri Ketika sedang menyusun lalu kau datang lagi Aku pernah terjatuh dua kali Karena ceroboh memberikan kesempatan Aku pernah ditinggalkan karena menunggu Aku juga pernah dihakimi karena melindungi Aku pernah ditinggal pergi karena tak cukup memberi Aku pernah ditikam karena terlalu jujur pada hati sendiri Aku pernah disalahkan karena berbicara yang sebenarnya Aku pernah disuruh menunggu ketika ia tengah menunggu orang lain Aku pernah seperti itu Sehancur itu aku pernah berjuang Berkali-kali bangkit hanya untuk kembali di hancurkan Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku pernah sehancur itu Jika kau...

SI MERAH

    Mistis, mungkin kata itu masing menjadi topik yang sangat sering kita perbincangkan saat ini. Ada golongan orang mempercayai keberadaan mereka, ada juga yang pura-pura tidak percaya karena takut, ada juga yang tidak percaya sama sekali tentang keberdaan makhluk gaib. Jurusanku sangat terkenal akan kehororannya. Banyak sekali aku mendengar cerita-cerita menyeramkan dari kakak tingkat, baik itu cerita turun-temurun dari angkatan-angkatan terdahulu, atau pengalaman pribadi saat mereka berada di jurusan. Aku kuliah disalah satu Universitas Negeri yang ada di Sumatera Selatan, kampus kuning adalah identitas dari universitaku, dan ciri dari Fakultasku adalah dengan warna Orange-nya. Jurusanku sangat akrab dengan hewa, tumbuhan, dan bakteri. Orang bilang, kami adalah dokter untuk makhluk hidup. Jurusanku terdiri tiga lantai, lantai pertama ada ruangan dosen dan tata usaha, laboratorium Ekologi, Laboratorium komputer, ruang seminar, perpustakaan jurusan dan toilet untuk Dose...

Pembuatan Preparat Daun Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) Karya Desti Ayu, S.Si

Penampakan stomata pada saat membuat preparat mata kuliah mikroteknik (Dokumen Pribadi, 2016)   MIKROTEKNIK        Mikroteknik merupakan suatu ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan mata terbuka biasa tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Banyak metode dalam mikroteknik, diantaranya metode geser, metode maserasi, metode kayu, metode squash, metode parafin, dan metode whole mount (Fransisca, 2012).      Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik, untuk klasifikasi praktis. Bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras. Spesimen tumbuhan yang sedang tumbuh maupun yang sedang dalam pr...