LOMBA KARYA TULIS
ILMIAH
INOVASI DAN PENGOLAHAN SAMPAH UNTUK LINGKUNGAN HIDUP
YANG LEBIH BAIK BIDANG TEKNOLOGI
PEMANFAATAN
LIMBAH KULIT TIMUN SURI (Cucumis sativus) MENJADI NATA DE CUCUMBER SKIN
![]() |
DISUSUN OLEH:
KETUA TIM :
LINGGA OKTAVALLIN (08041381419059)
ANGGOTA : 1.
DESTI AYU (08041181419017)
2. LINA FITRI YANTI AS (08041381419058)
DOSEN PEMBIMBING : Dr. Elisa Nurnawati, S.Si., M.Si.
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………i
HALAMAN
PENGESAHAN…………………………………………………….ii
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………...iii
ABSTRAK………………………………………………………………………..iv
BAB I
PENDAHULUAN……….…………………………………………….…..1
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA…………………………………………...……...3
BAB III METODE
PENELITIAN………………………………………………...7
BAB IV HASIL DAN
PEMBAHASAN....……………………………………….9
BAB V KESIMPULAN………………………………………………………….14
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………........15
LAMPIRAN……………………………………………………………………...17
iii Universitas Sriwij
Pemanfaatan
Limbah Kulit Timun Suri (Cucumis sativus)
menjadi Nata de Cucumber Skin
Lingga Oktavallin(*)[1], Desti Ayu[2],
dan Lina Fitri Yanti AS[3]
[1,2,3]
Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Sriwijaya
Universitas
Sriwijaya
Jl.
Palembang-Prabumulih km 32, Indralaya, 30862
Abstrak
Limbah organik
dari kulit Timun Suri selama ini hanya terbuang begitu saja, tanpa adanya
pengolahan lebih lanjut yang bermanfaat. Pembuangan limbah kulit Timun Suri ke
alam secara langsung dapat mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan.
Pembuangan limbah ke perairan menyebabkan terjadinya eutrofikasi, yang dapat
menjadi sumber nutrisi bagi mikroba patogen. Penumpukan kulit Timun Suri di
tanah dapat mengurangi nilai estetika dan menimbulkan aroma yang tidak sedap,
untuk itu perlu dilakukan pengolahan kulit Timun Suri agar lebih bermanfaat.
Limbah tersebut bisa dijadikan bahan untuk pembuatan Nata. Nata de Cucumber skin adalah
nata yang berasal dari kulit Timun Suri. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengolah limbah kulit Timun Suri
menjadi Nata. Proses pembuatan Nata de Cucumber skin, diawali dengan
pengumpulan kulit Timun Suri, selanjutnya bersihkan dari kotoran dengan air
mengalir. Kulit Timun Suri dicampur dengan air, lalu di blender hingga halus.
Kemudian, disaring untuk mengambil ekstraknya. Lalu ekstrak di rebus hingga
mendidih. Ekstrak dituang ke dalam nampan plastik dan ditutup dengan kertas.
Setelah dingin ditambahkan starter Acetobacter
xylinum dan tutup kembali, kemudian difermentasi selama 5 hari sampai
terbentuk lembaran Nata. Nata de
Cucumber Skin dengan fermentasi selama 5 hari
menghasilkan ketebalan nata sebesar 0,5 cm, organoleptik (rasa) yaitu tidak
suka sampai dengan agak suka, sedangkan untuk organoleptik (warna) yaitu suka. Nata de Cucumber skin kaya
akan serat yang dapat memperlancar proses pencernaan pada tubuh. Olahan Nata de Cucumber skin sangat cocok untuk
orang yang sedang menjalankan program diet, karena serat yang terkandung dalam Nata tersebut membuat rasa kenyang di
dalam perut.
Kata kunci: limbah organik, kulit timun suri, Acetobacter xylinum, Nata.
iv Universitas Sriwijaya
1.1. Latar
Belakang
Indonesia banyak sekali berbagai macam jenis
buah-buahan yang mengandung sumber vitamin dan mineral, salah satunya yaitu
buah Timun Suri (Cucumis sativus L.).
Buah Timun Suri banyak dimanfaatkan dalam olahan minuman segar, selama proses
pembuatannya menyisakan limbah kulit Timun Suri. Pembuangan
limbah kulit Timun Suri secara langsung dapat mengakibatkan timbulnya berbagai
macam permasalahan. Pembuangan limbah ke perairan dapat menyebabkan terjadinya
eutrofikasi, yang menjadi sumber nutrisi bagi mikroba patogen. Sedangkan
penumpukan kulit Timun Suri di tanah dapat mengurangi nilai estetika dan
menimbulkan aroma yang tidak sedap. Maka dari itu perlu adanya pengolahan
limbah kulit Timun Suri menjadi olahan yang bermanfaat.
Buah
Timun Suri itu sendiri kaya akan sumber serat yang berguna bagi pencernaan manusia.
Selama ini buah Timun Suri hanya dimanfaatkan bagian daging buahnya, sedangkan
kulit buah yang masih mengandung sedikit daging buah terbuang begitu saja
(Herawaty dan Methatias, 2015). Peneliti berasumsi bahwa kulit buah Timun Suri
memiliki kandungan sukrosa seperti pada daging buah, karena masih ada sedikit
daging buah yang melekat pada kulit buah. Sehingga muncul pemikiran untuk
memanfaatkan kulit buah tersebut menjadi bahan alternatif pembuatan nata.
Nata berasal dari bahasa Spanyol yaitu nadar yang artinya berenang, istilah tersebut juga berasal dari bahasa latin yaitu natere yang artinya terapung. Nata sudah lama populer di Filipina dan merupakan hidangan yang sangat digemari oleh masyarakatnya. Nata yaitu selulosa bakterial yang mengandung lebih kurang 98% konsistensinya kokoh dan teksturnya agak kenyal. Makanan ini termasuk makanan rendah kalori sehingga cocok digunakan penderita diabetes. Nata dapat dibuat dari bahan-bahan seperti, sari kelapa, air kelapa, sari nanas dan sari buah lainnya (Rochintaniawati, 2010).
Nata merupakan selulosa yang berkalori rendah, kadar serat 2,5%, dan memiliki kadar air 98%. Serat yang ada dalam nata tersebut sangat penting dalam proses fisiologis, bahkan dapat membantu para penderita diabetes dan memperlancar pencernaan makanan dalam saluran pencernaan. Oleh karena itu dapat dipakai sebagai sumber makanan kalori rendah untuk keperluan diet. Bahan baku yang sudah umum digunakan sebagai media untuk membuat nata adalah air kelapa, yang produknya dikenal dengan nama nata de coco. Nata juga dapat dibuat dengan bahan-bahan media lainnya yang cukup mengandung gula. Gula yang terkandung dalam bahan tersebut dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum membentuk nata (Sihmawati et al., 2014).
|
1 Universitas Sriwijaya
Produk makanan
nata bukan merupakan sesuatu yang asing lagi di kalangan masyarakat, bentuknya
yang seperti agar-agar tetapi kenyal merupakan ciri khas tersendiri dari nata.
Makanan ini bermanfaat untuk memperlancar penyerapan makanan dalam tubuh dan membantu
penderita diabetes yang diet gula. Produk ini dipakai sebagai sumber makanan
berkalori rendah untuk keperluan diet (Herawaty dan Methatias, 2015).
1.2.
Rumusan Masalah
Bagaimana hasil olahan nata
yang menggunakan alternatif substrat dari limbah kulit Timun Suri menjadi Nata de Cucumber Skin dengan
memanfaatkan bakteri Acetobacter xyinum.
1.3.
Tujuan
Mengetahui manfaat limbah kulit Timun Suri sebagai substrat alternatif
pembuatan Nata de Cucumber Skin.
1.4.
Manfaat Penulisan
Sebagai pengetahuan tentang pemanfaatan limbah kulit timun suri
untuk dijadikan Nata de Cucumber Skin.
2 Universitas Sriwijaya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Timun Suri (Cucumis sativus L)
Timun Suri yang ilmiahnya adalah Cucunis sativus L saat ini sudah banyak
dikenal dan dikonsumsi masyarakat, meski demikian Timun Suri merupakan tanaman
yang relative baru di Indonesia. Timun Suri bias ditanam kapan saja dan tidak
mengenal musim. Biasanya Timun Suri ini dikonsumsi sebagai bahan minuman yang
menyegarkan. Timun suri meski tawar namun berasa segar dan kaya akan kandungan
mineral yang bermanfaat untuk tubuh (Sartikasari, 2015).
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledone
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.
Nilai gizi Timun Suri cukup baik karena buah
ini merupakan sumber mineral dan vitamin. Kandungan gizi dan komposisi gizi
buah mentimun dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Kandungan dan Komposisi Gizi Buah Timun Suri Tiap 100 Gram
|
Kandungan Gizi |
Kadar |
|
Vitamin C |
24.86% |
|
Serat |
0.8% |
|
Lemak |
0.04% |
|
Protein |
1.3% |
|
Karbohidrat |
2.08% |
|
Kalium |
1008 mg |
|
Kalsium |
768 mg |
|
Fosfor |
422 mg |
Sumber : Arifa et al., 2014
|
3 Universitas Sriwijaya
Acetobacter xylinum merupakan
bakteri asam asetat yang bersifat gram negatif, aerob, berbentuk batang,
nonmotil, suhu optimum pertumbuhannya
25 – 30○C, dan mampu
mengoksidasi etanol menjadi asam aetat pada pH 4,5. Proses pembuatan nata oleh
bakteri Acetobacter
xylinum merupakan kegiatan sintesa selulosa yang
dikatalis oleh enzim pensintesis selulosa yang terikat pada membran sel
bakteri. Penguraian atau fermentasi gula dilakukan melalui jalur heksosa
monofosfat dan siklus asam sitrat
(Engelhardt, 1995).
Genus Acetobacter
merupakan bakteri yang menghasilkan
serat‐serat
selulosa yang sangat halus. Serat‐serat
ini dapat membentuk suatu jaringan pada lapisan permukaan antara udara dan
cairan yang disebut pelikel. Pelikel ini memiliki ketebalan kira‐kira 10 mm
bergantung pada masa pertumbuhan mikroba. Pelikel yang berada pada permukaan
udara cairan ini terdiri atas pita‐pita yang mengandung kristalin yang
tinggi. Pita–pita tersebut memiliki lebar 40‐100 nm, namun
panjangnya sulit diukur karena membentuk jaringan yang berkaitan satu dengan
yang lainnya. Pita tersebut tersusun atas bagian mikrofibril yang berhubungan
melalui ikatan hidrogen
(Figini, 1982).
Bakteri Acetobacter
xylinum merupakan mikroorganisme berbentuk
batang pendek, yang mempunyai panjang 2 mikron dan lebar 0,6 mikron, dengan
permukaan dinding yang berlendir. Bakteri ini dapat membentuk rantai pendek
dengan satuan 6-8 sel. Sifat dari bakteri ini adalah memiliki kemampuan untuk
mempolimerasi glukosa hingga menjadi selulosa. Selulosa kemudian membentuk
matriks yang dikenal sebagai nata. Acetobacter xylinum merupakan
mikroorganisme yang sangat efisien menghasilkan selulosa, merupakan Gram
negatif, berbentuk batang, berpasangan dan saling berikatan, reproduksi dengan binary
fission, bergerak dengan flagella dan tidak membentuk endospora. Pada
kondisi tertekan, A.
xylinum memanjangkan filamen (Sihmawati et al., 2014).
2.3. Fermentasi
Nata
Fermentasi adalah suatu
proses pengubahan senyawa yang terkandung dalam substrat oleh mikroba misalkan senyawa
gula menjadi bentuk lain, baik merupakan proses pemecahan maupun proses
pembentukan dalam situasi aerob dan anaerob. Proses fermentasi bisa terjadi proses
katabolisme maupun proses anabolisme (Sihmawati et al., 2014). Fermentasi ekstrak
yang telah dipersiapkan sebelumnya prosesnya sebagai berikut, ekstrak disterilkan
cara dididihkan selama 15 menit. Ekstrak didinginkan hingga suhu 40○C
.
4 Universitas Sriwijaya
Ekstrak dimasukkan pada nampan atau
baki steril dengan permukaan yang lebar, dengan kedalaman ekstrak kira-kira 5 cm.
Ekstrak diinokulasi dengan menggunakan starter atau biakan sebanyak 10%.
Ekstrak kemudian diaduk rata, ditutup dengan menggunakan kertas koran. Ekstrak di
inkubasi dengan cara diletakan pada tempat yang bersih, terhindar dari debu,
ditutup dengan menggunakan kertas koran untuk menghindari terjadinya
kontaminasi. Menurut Herawaty dan Methatias (2015), difermentasi selama 7 hari sampai
terbentuk lembaran nata. Setelah 7 hari nata siap dipanen, pada waktu pemanenan
dibuang lapisan tipis yang terdapat di atas permukaan lembaran nata lalu dicuci
hingga bersih.
2.4. Proses
Terbentuknya Nata
Sel-sel Acetobacter xylinum memanfaatkan
glukosa dari larutan gula dan menggabungkannya dengan asam lemak, membentuk suatu
prekursor pada jaringan sel bersama enzim mempolimerisasi glukosa menjadi
selulosa di luar sel Acetobacter xylinum. Aktivitas pembentukan nata hanya
terjadi pada kisaran pH antara 3,5 – 7,5. Kualitas nata terbaik dan
terbanyak mencapai pada pH 5,0 dan 5,5 pada suhu kamar. Kualitas dan jumlah terbanyak dihasilkan pada
media air kelapa yang mempunyai pH 4,5 dan kondisi pH optimum untuk pembentukan nata terjadi pada pH 4,0
(Pambayun, 2002).
Terbentuknya pelikel (lapisan tipis nata) mulai dapat dilihat di permukaan
media cair setelah 24 jam inkubasi, bersamaan dengan terjadinya proses
penjernihan cairan di bawahnya. Jaringan halus yang transparan yang terbentuk di
permukaan membawa sebagian bakteri yang terperangkap di dalamnya. Gas
karbondioksida yang dihasilkan secara lambat oleh Acetobacter xylinum mungkin
menyebabkan pengapungan nata, sehingga nata didorong ke permukaan. Polisakarida
bakteri yang dibentuk oleh enzim-enzim Acetobacter xylinum berasal dari suatu
prekursor yang berkaitan β (1-4) yang tersusun dari komponen gula yaitu glukosa,
manosa, ribose, dan rhamnosa. Prekursor dalam pembentukan selulosa bakteri Acetobacter
xylinum ialah UDPG (Santosa et al., 2012).
5 Universitas Sriwijaya
2.5. Faktor
Pertumbuhan Acetobacter
xylinum
Pertumbuhan Acetobacter xylinum
dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain pH, suhu, sumber nitrogen, dan sumber
karbon. Sebagai sumber karbon dapat digunakan berbagai jenis gula seperti glukosa,
sukrosa, fruktosa, ataupun maltose dan sedangkan untuk mengatur pH digunakan asam
asetat glasial. Tingkat konsentrasi ammonium sulfat (ZA) yang ditambahkan pada
media akan berpengaruh pada produksi nata adalah wadah fermentasi. Untuk efisiensi
dan efektifitas hasil nata serta mempertinggi rendemen lebih baik digunakan wadah
yang berbentuk segiempat dan luas permukaan yang relatif besar. Hal ini disebabkan karena kondisi yang
demikian ini pertukaran oksigen dapat berlangsung dengan baik (Sihmawati et al., 2014).
Massa nata yang dihasilkan kokoh, tebal, kenyal putih, dan tembus pandang
serta perlu diperhatikan suhu fermentasi, komposisi dan pH atau keasaman
medium, selain itu penggunaan biang (starter)
juga penting. Suhu inkubasi 280C sampai 30○C. pH medium
sekitar 4 – 4,5, komposisi dari ammonium sulfat dan sukrosa dan juga diperlukan
biankan atau starter (Rizal et al., 2013).
6 Universitas Sriwijaya
BAB III
METODE PENELITIA
3.1.
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2017 sampai dengan 24 Oktober 2017, pembuatan Nata de Cucumber Skin dilaksanakan di rumah Kos Melati Gang Lampung 1, Kelurahan Timbangan, Kecamatan Indralaya Utara Kab. Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
3.2. Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah baki, blender, gelas ukur, karet gelang, kertas, kompor, lilin, panci, piring, pisau, saringan, spatula, dan timbangan. Sedangkan bahan yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah asam asetat, air, kulit Timun Suri yang diambil dari Pedagang Es Buah yang ada di Timbangan dan Pedagang Es Buah yang ada di Pasar Indralaya, Starter Acetobacter xylinum, dibeli di Laboratorium Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Sukrosa (gula pasir) dibeli di pasar Indralaya, dan ZA (amonium sulfat).
3.3. Cara Kerja
3.3.1. Sterilisasi Alat dan Bahan
Pertama alat-alat yang akan digunakan seperti baki, blender, gelas ukur, panci, piring, pisau, saringan, spatula, dicuci bersih kemudian dijemur sampai kering, serta karet gelang dan yang digunakan juga harus bersih dan dijemur agar steril.
7 Universitas Sriwijaya
3.3.2. Fermentasi Nata de Cucumber Skin
Kulit Timun Suri
dicuci, setelah itu ditimbang 120 gram, lalu dipotong kecil-kecil dan
ditambahkan air sebanyak 400 ml. Lalu dihaluskan menggunakan blender.
Selanjutnya kulit Timun Suri yang sudah dihaluskan disaring, diambil
ekstraknya. Setelah itu dimasak, kemudian ditambahkan gula pasir 10 gram, dan
ZA 2 gram, tunggu hingga mendidih. Kemudian selagi panas tuang kedalam baki
plastik dan ditutup dengan kertas, ikat dengan karet gelang. Kemudian setelah
dingin, masukkan Starter Acetobacter
xylinum 40 ml. Lalu tutup kembali menggunakan kertas dan diikat dengan
karet, difermentasi selama 7 hari.
3.3.3.
Data yang Diamati
Data yang diamati dalam pembuatan Nata de Cucumber Skin meliputi:
Tabel 2. Parameter yang diamati
dalam pembuatan Nata de Cucumber Skin
|
No |
Parameter Nata
de Cucumber Skin |
|
1 |
Organoleptik (Rasa) |
|
2 |
Organoleptik (Warna) |
|
3 |
Ketebalan |
8 Universitas Sriwijaya
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berdasarkan
penelitian yang telah dilaksanakan, didapat hasil sebagai berikut:
|
4.1.1.
Fermentasi Nata de Cucumber Skin
![]()
|

Gambar 1. Nata de Cucumber Skin
setelah fermentasi selama 2 hari
|
![]()
|

Gambar 2. Nata de Cucumber Skin
setelah fermentasi selama 5 hari
(Sumber: dokumen pribadi, 2017)
4.1.2.
Perbandingan Hasil Nata de Cucumber Skin dan
Nata de Cucumber
|
No |
Parameter |
Nata
de Cucumber Skin (Fermentasi 5 Hari) |
Nata
de Cucumber (Fermentasi 7 Hari) |
|
1 |
Ketebalan |
0,5 cm |
1,1 cm |
|
2 |
Organoleptik (Rasa) |
2-3 |
3-4 |
|
3 |
Organoleptik (Warna) |
4 |
3 |
Atribut
mutu (Organoleptik): (1) sangat tidak suka, (2) tidak suka, (3) agak suka, (4) suka, (5) sangat suka.
9 Universitas Sriwijaya
4.2. Pembahasan
Nata de Cucumber Skin merupakan hasil olahan pangan secara fermentasi
dengan bantuan Acetobacter xylinum. Menurut Rizal et al. (2013), hasil kerja dari bakteri ini menghasilkan suatu
lapisan tipis yang terapung diatasnya. Lapisan tipis ini merupakan hasil perubahan
sukrosa yang terdapat dalam gula menjadi selulosa secara ekstraseluler,
sehingga sel-sel bakteri akan terperangkap dalam fiberselulosa yang memiliki bentuk
partikel yang tebal.
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan pada pembuatan Nata
de Cucumber Skin dengan fermentasi selama 5 hari dihasilkan ketebalan nata
sebesar 0,5 cm, organoleptik (rasa) yaitu tidak suka sampai dengan agak suka,
sedangkan untuk organoleptik (warna) yaitu suka. Hasil penelitian Herawaty dan Methatias
(2015), Nata de Cucumber dengan fermentasi
selama 7 hari menghasilkan ketebalan nata sebesar 1,1 cm, organoleptik (rasa)
yaitu agak suka sampai dengan suka, sedangkan organoleptik (warna) yaitu agak
suka.
Bakteri Acetobacter
xylinum akan membentuk nata pada permukaan medium yang mengandung gula. Menurut
Effendi (2009), bakteri ini dalam kondisi optimum memiliki kemampuan untuk
memproduksi nata dan jika pertumbuhan bakteri optimum maka ketebalan nata yang
dihasilkan juga akan menjadi lebih baik. Ketebalan nata dipengaruhi oleh daya kerja bakteri Acetobacter xylinum dalam mengubah gula menjadi selulosa, sehingga
jika kadar gula yang ditambahkan semakin tinggi maka nata yang dihasilkan juga
akan semakin tebal, namun jika kadar gula yang ditambahkan terlalu tinggi maka
bakteri Acetobacter xylinum tidak akan bisa bekerja dengan maksimum karena
kadar gula yang terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan dan daya kerjanya.
Acetobacter
merupakan genus yang
digunakan untuk pembuatan nata. Menurut Pelczar dan Chan (2005), bakteri
pembusuk nata termasuk kedalam golongan Acetobacter
yang mempunyai ciri-ciri antara lain sel bulat panjang sampai batang (seperti
kapsul) tidak mempunyai endospora, sel-selnya bersifat gram negatif, bernafas
secara aerob, mengoksidasi etanol menjadi asam asetat, dan lain sebagainya. Menurut
Astawan (2004), bakteri pembentuk nata Acetobacter
xylinum dapat tumbuh dan berkembang membentuk nata karena adanya kandungan
air, protein, lemak, karbohidrat serta abu dan beberapa mineral pada substrat
sebagai nutrisinya.
10 Universitas Sriwijaya
|
Bakteri Acetobacter xylinum yang memiliki bentuk
kapsul, berkembang pada medium ekstrak kulit Timun Suri yang mengandung
karbohidrat. Menurut Nisa et al.
(2001), Acetobacter xylinum merupakan
contoh untuk sebuah kapsul selulosa, yang hanya mempunyai 1 jenis ikatan (β 1-4
rantai glukosa). Aktivitas pembentukan nata oleh pengaruh bakteri Acetobacter xylinum berada pada kisaran
pH antar 3,5 - 7,5. Asam asetat glasial ditambahkan kedalam medium untuk
menurunkan pH medium yang optimum yaitu 4. Sedangkan, suhu yang sangat
memungkinkan terjadinya pembentukan nata dengan baik adalah pada suhu kamar
antara 28-32 ºC.
Asam asetat
glasial digunakan untuk menurunkan pH medium agar Acetobacter xylinum dapat hidup, karena pada saat perebusan antara
gula, ekstrak kulit Timun suri, dan ammonium sulfat terdapat bahwa pH medium
kisaran 6. Menurut Rizal et al.
(2013), hal ini menunjukkan bahwa Acetobacter xylinum dapat merubah
glukosa menjadi selulosa (nata) pada kondisi pH tersebut. Aktivitas pembentukan
nata hanya terjadi pada kisaran pH antara 3,5 – 7,5. Semakin maksimal penambahan asam asetat glasial menurut
Nisa et al. (2001), maka tekstur
semakin turun. Tekstur nata yang rendah (lunak) menunjukkan serat tak larut
yang terbentuk lebih banyak. Kekerasan tekstur berkaitan erat dengan kerapatan
jaringan selulosa.
Bahan
yang dibutuhkan untuk pembuatan nata khususnya Nata de Cucumber Skin selain bakteri yaitu berupa kulit Timun Suri.
Kulit Timun Suri digunakan sebagai sumber nutrisi bagi bakteri, karena kulit
Timun Suri mengandung karbohidrat. Nata
yang dihasilkan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar gula yang
ditambahkan pada proses fermentasi. Menurut Novianti dan
Hendrizon (2003), hal ini
dikarenakan dengan semakin banyaknya gula maka akan semakin banyak selulosa
ekstraseluler yang terbentuk akibat dari pemecahan gula menjadi polisakarida.
Selulosa yang terbentuk berupa benang-benang yang bersama-sama dengan polisakarida yang membentuk suatu
jalinan yang terus menebal menjadi lapisan nata.
Sumber nitrogen yang digunakan pada pembuatan Nata de Cucumber Skin berupa ZA. Menurut Rossi (2008), sumber nitrogen yang diberikan dalam pembuatan Nata bertujuan untuk merangsang pertumbuhan, perkembangan, dan aktivitas bakteri Acetobacter xylinum. Menurut Astawan (2004), peningkatan konsentrasi nitrogen dalam substrat dapat meningkatkan jumlah polisakarida nata yang terbentuk. Sumber nitrogen umum digunakan ZA (amonium sulfat), dan amonium fosfat. ammonium sulfat merupakan sumber nitrogen yang mudah diperoleh dan harganya relatif murah dibandingkan sumber nitrogen lainnya. Penambahan sumber nitrogen anorganik atau organik akan meningkatkan suatu aktivitas bakteri Acetobacter xylinum dalam memproduksi nata.
Tingkat
keberhasilan pembentukan nata
dipengaruhi pula oleh wadah yang digunakan. Pembuatan Nata de Cucumber Skin ini menggunakan wadah berbentuk segi empat. Menurut
Rizal et al. (2013), efisiensi dan
efektifitas hasil nata serta mempertinggi rendemen lebih baik digunakan wadah
yang berbentuk segi empat dan luas permukaan yang relatif besar. Hal ini disebabkan
karena kondisi yang demikian ini pertukaran oksigen dapat berlangsung dengan
baik.
Wadah fermentasi
ditutup dengan kertas dan diletakkan pada tempat datar serta ruang gelap yang
difermentasi selama 7 hari. Sedangkan pada percobaan yang telah dilakukan
fermentasi nata baru 4 hari, tetapi sudah terlihat lapisan nata yang mulai
terbentuk. Hal ini dilihat dari adanya lapisan berwarna putih keruh yang
menandakan bakteri telah memanfaatkan ekstrak kulit Timun Suri sebagai substrat
untuk pertumbuhan. Menurut Herawaty dan Methatias (2015), menyatakan bahwa
pembuatan nata Timun Suri difermentasi selama 7 hari sampai terbentuk lembaran
nata. Setelah 7 hari nata siap dipanen, pada waktu pemanenan dibuang lapisan tipis
yang terdapat di atas permukaan lembaran nata lalu dicuci hingga bersih. Nata
dilakukan analisa ketebalan, tekstur dan kadar serat.
Tujuan dari
sterilisasi peralatan, bahan, dan lingkungan adalah agar terhindar dari
berbagai macam kontaminan. Salah satu ciri nata yang telah terkontaminasi, ditandai
tumbuhnya jamur dan terdapat benda asing
yang masuk pada media. Majesty et al.
(2015) selama proses fermentasi sebaiknya nata diletakkan pada rak kondisi diam
(stabil) dengan tujuan agar nata yang terbentuk memiliki bentuk yang sesuai
dengan bentuk wadah. Menurut Sutarminingsih
(2004), fermentasi sebaiknya dilakukan dalam ruangan khusus yang bersih untuk
menghindari terjadinya goyangan atau kontaminasi mikroorganisme lain ataupun
berbagai jenis serangga.
Keunggulan dari
produk nata yang dibuat dari kulit Timun Suri adalah kandungan seratnya yang
cukup tinggi terutama selulosa. Peran utama serat dalam makanan adalah pada
kemampuannya mengikat air yang dapat melunakkan feses. Menurut Herawaty dan Methatias
(2015), menyatakan bahwa kadar serat yang tinggi pada pembuatan Nata de Cucumber untuk perlakuan penambahan sukrosa 10%,
yakni 1,11%, sedangkan kadar serat rendah pada penambahan sukrosa 8%, yakni 0,97%.
Serat sangat berguna untuk sistem pencernaan sehingga dapat melancarkan proses
buang air besar.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah didapat, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
Nata de Cucumber Skin dengan fermentasi selama 5 hari
menghasilkan ketebalan nata sebesar 0,5 cm, organoleptik (rasa) yaitu tidak
suka sampai dengan agak suka, sedangkan untuk organoleptik (warna) yaitu suka. Keberhasilan
pembentukan nata tergantung dari komposisi bahan antara lain air, asam asetat,
ekstrak kulit Timun Suri, sukrosa (gula pasir), starter Acetobacter xylinum, sukrosa (gula pasir), dan ZA (ammonium sulfat).

Komentar
Posting Komentar