Langsung ke konten utama

Herbarium Karya Desti Ayu, S.Si

 

Herbarium Daun Maple yang Dibuat Manual @aditiasandika
(Dokumen Pribadi, 2020) 

Ø  

Pengenalan Herbarium

Apa yang terbesit dipikiran kalian jika mendengar kata Herbarium?

Kebanyakan akan mengatakan bahwa itu adalah hal yang berhubungan dengan tumbuhan, ada juga yang tidak tahu, tetapi untuk anak jurusan Biologi tentu itu menjadi hal yang sangat sering di dengar, apalagi pada saat pulang dari kuliah lapangan. Tentu saja herbarium adalah oleh-oleh yang wajib dikoleksi dan kadang kalah menjadi tugas yang diberikan oleh dosen.


Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Ramadhanil, 2003). Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar, sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, misalnya buah (Setyawan dkk, 2005).

Cara Pembuatan Herbarium

Ø  Persiapan Pembuatan Herbarium

Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting dalam praktek pembuatan herbarium. Spesimen herbarium yang baik harus memberikan informasi terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para peneliti. Dengan kata lain,suatu koleksi tumbuhan harus mempunyai seluruh bagian tumbuhan dan harus ada keterangan yang memberikan seluruh informasi yang tidak nampak pada spesimen herbarium.

Kuliah Lapangan Biologi Umum Jurusan Biologi FMIPA UNSRI di Pagar Alam @bioers14
(Dokumen Pribadi, 2014)


Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit ditemukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan kering dan awetan basah. Awetan kering tanaman di awetkan dalam bentuk herbarium. Awetan basah baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4% (Setyawan dkk, 2005).

Ø  Pengambilan Sampel

Sampel yang diambil berupa tumbuhan semak, herba, perdu dan pohon yang kemudian digunting sepanjang 40 cm dengan menggunakan gunting rumput dan dimasukkan ke tas plastik yang telah disiapkan sebelumnya. Koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya, pengawetan dan penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula kelestarian objek tersebut. Perlu ada pembatasan pengambilan objek. Salah satunya dengan cara pembuatan awetan. Pengawetan dapat dilakukan terhadap objek tumbuhan. Pengawetan dapat dengan cara basah ataupun kering. Cara dan bahan pengawetnya bervariasi, tergantung sifat objeknya. Organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan dengan awetan basah. Sedang untuk daun, batang dan akarnya, umumnya dengan awetan kering berupa herbarium (Suyitno, 2004).

 

Pengambilan Sampel Herbarium di Gunung Dempo, Pagar Alam @bioers14
(Dokumen Pribadi, 2014)

 

Ø  Penyusunan Sampel

Sampel yang telah didapat disusun terlebih dahulu dan dipilih sampel yang bagus untuk di herba, kemudian disemprot menggunakan alkohol dan dibungkus dengan koran kemudian dilipat bagian ujungnya dan disusun lagi untuk dimasukkan ke dalam kardus, kardus tersebut diisolasi hingga tidak ada udara yang dapat masuk.

Sampel Herbarium Diletakan Di Dalam Koran @bioers14
(Dokumen Pribadi, 2014)

Sampel Herbarium Di Semprot dengan Alkohol 70% dan Di Bungkus @bioers14
(Dokumen Pribadi, 2014)


Proses Pengulangan Pembungkusan Sampel Herbarium dengan Koran @bioers14
(Dokumen Pribadi, 2014)

Sampel Herbarium Bungkus lagi dengan Kardus @bioers 14
(Dokumen Pribadi, 2014)

Ø  Menentukan Membuat Herbarium Basah atau Kering

v Herbarium basah, setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan, kemudian dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Satu lipatan kertas koran untuk satu spesimen. Tidak benar digabungkan beberapa spesimen di dalam satu lipatan kertas. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material herbarium tersebut ditumpuk satu diatas lainnya.

Tebal tumpukan disesuaikan dengan dengan daya muat kantong plastik (40cm×60cm) yang akan digunakan. Tumpukkan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disiram alkohol 70 % atau spiritus hingga seluruh bagian tumbukan tersiram secara merata. Kemudian kantong plastik ditutup rapat dengan isolatip atau hekter supaya alkohol atau spiritus tidak menguap keluar dari kantong plastik (Onrizal, 2005).

setelah proses ini selesai, sampel herbarium tinggal dimasukan ke dalam toples yang berisi larutan pengawet dengan takaran yang sudah ditentukan sebelumnya, kemudian ditulis identitas dari sampel herbarium tersebut.

Spesimen Herbarium Basah
(Google, 2020)

v  Herbarium kering, cara kering menggunakan proses yaitu pengeringan langsung, yakni tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal di pres di dalam sasak, untuk mendpatkan hasil yang optimum sebaiknya di pres dalam waktu dua minggu kemudian dikeringkan diatas tungku pengeringan dengan panas yang diatur di dalam oven. Atau Sampel yang telah dibungkus menggunakan Koran dibuka dari dalam kardus untuk di oven selama 2 hari hingga sampel tumbuhan tersebut kering dengan suhu 60-64ºC.

Pengeringan harus segera dilakukan karena jika terlambat akan mengakibatkan material herbarium rontok daunnya dan cepat menjadi busuk. Pengeringan bertahap, yakni material herbarium dicelup terlebih dahulu di dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan lalu dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya, ditempuk dan dipres, dijemur atau dikeringkan di atas tungku pengeringan.

Selama proses pengeringan material herbarium itu harus sering diperiksa dan diupayakan agar pengeringan nya merata. Setelah kering, material herbarium dirapikan kembali dan kertas koran bekas pengeringan tadi diganti dengan kertas baru. Kemudian material herbarium dapat dikemas untuk diidentifikasi            (Onrizal, 2005).

Ketika tumbuhan tersebut telah kering siap untuk dijahit dengan karton menggunakan jarum jahit serapi mungkin dan dicari klasifikasi serta deskripsinya kemudian dibungkus dengan plastik yang nantinya untuk dijadikan satu seperti bingkai.

Spesimen Herbarium Kering Tumbuhan Panjang Umum (Vaccinium stapfianum)

Gunung Dempo, Pagar Alam

(Dokumen Pribadi, 2014)

Herbarium Kering Cherry Laurel (Prunus laurocerasus), Gn. Dempo, Pagar Alam
(Dokumen Pribadi, 2014)

Manfaat Herbarium

Herbarium dapat  digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli bunga atau ahli taksonomi untuk membuat kunci determinan. Herbarium dipakai untuk mendukung studi ilmiah lainnya seperti survey ekologi, studi fitokimia, penghitungan kromosom, melakukan analisa perbandingan biologi dan berperan dalam mengungkap kajian evolusi (Setyawan dkk, 2005). Kebermanfaatan herbarium yang sangat besar ini menuntut perawatan dan pengelolaan spesimen harus dilakukan dengan baik dan benar.



REFERENSI

·         Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan Herbarium. Access by : http://ocw.usu.ac.id.

·  Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya dalam Menunjang PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. UNS. Solo.

·         Setyawan, A. D., Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K., dan Susilowati, A. 2005. Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

·         Suyitno, A.L. 2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek Biologi. Jurusan Biologi FMIPA UNY. Yogyakarta.


Semoga Bermanfaat, Terima Kasih Sudah Membaca 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEHANCUR ITU AKU PERNAH Karya Brian Khrisna

Aku pernah hancur karena terlalu percaya Pernah juga patah karena memilih orang yang salah Aku pernah terkubur dalam-dalam di hati seseorang Yang kuselami dengan niat untuk bisa ku mengerti Aku pernah memutuskan berjuang Untuk hati yang memperjuangkan orang lain Aku pernah tercerai berai ketika kasihku tak sampai Aku pernah tertusuk pecahan hatiku sendiri Ketika sedang menyusun lalu kau datang lagi Aku pernah terjatuh dua kali Karena ceroboh memberikan kesempatan Aku pernah ditinggalkan karena menunggu Aku juga pernah dihakimi karena melindungi Aku pernah ditinggal pergi karena tak cukup memberi Aku pernah ditikam karena terlalu jujur pada hati sendiri Aku pernah disalahkan karena berbicara yang sebenarnya Aku pernah disuruh menunggu ketika ia tengah menunggu orang lain Aku pernah seperti itu Sehancur itu aku pernah berjuang Berkali-kali bangkit hanya untuk kembali di hancurkan Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku pernah sehancur itu Jika kau...

SI MERAH

    Mistis, mungkin kata itu masing menjadi topik yang sangat sering kita perbincangkan saat ini. Ada golongan orang mempercayai keberadaan mereka, ada juga yang pura-pura tidak percaya karena takut, ada juga yang tidak percaya sama sekali tentang keberdaan makhluk gaib. Jurusanku sangat terkenal akan kehororannya. Banyak sekali aku mendengar cerita-cerita menyeramkan dari kakak tingkat, baik itu cerita turun-temurun dari angkatan-angkatan terdahulu, atau pengalaman pribadi saat mereka berada di jurusan. Aku kuliah disalah satu Universitas Negeri yang ada di Sumatera Selatan, kampus kuning adalah identitas dari universitaku, dan ciri dari Fakultasku adalah dengan warna Orange-nya. Jurusanku sangat akrab dengan hewa, tumbuhan, dan bakteri. Orang bilang, kami adalah dokter untuk makhluk hidup. Jurusanku terdiri tiga lantai, lantai pertama ada ruangan dosen dan tata usaha, laboratorium Ekologi, Laboratorium komputer, ruang seminar, perpustakaan jurusan dan toilet untuk Dose...

Pembuatan Preparat Daun Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) Karya Desti Ayu, S.Si

Penampakan stomata pada saat membuat preparat mata kuliah mikroteknik (Dokumen Pribadi, 2016)   MIKROTEKNIK        Mikroteknik merupakan suatu ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan mata terbuka biasa tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Banyak metode dalam mikroteknik, diantaranya metode geser, metode maserasi, metode kayu, metode squash, metode parafin, dan metode whole mount (Fransisca, 2012).      Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik, untuk klasifikasi praktis. Bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras. Spesimen tumbuhan yang sedang tumbuh maupun yang sedang dalam pr...