MIKROTEKNIK
Mikroteknik merupakan suatu ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan mata terbuka biasa tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Banyak metode dalam mikroteknik, diantaranya metode geser, metode maserasi, metode kayu, metode squash, metode parafin, dan metode whole mount (Fransisca, 2012).
Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik, untuk klasifikasi praktis. Bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras. Spesimen tumbuhan yang sedang tumbuh maupun yang sedang dalam proses perkembangannya dapat diperoleh langsung dari rumah kaca, kebun maupun ladang. Botol berisi larutan fiksasi harus dipersiapkan pada waktu pengambilan atau pengumpulan spesimen. Tumbuhan atau bahan yang sudah diambil secepatnya disimpan dalam air sebelum dilakukan proses fiksasi. Banyak jenis tumbuhan yang langsung layu begitu dipotong, untuk hal ini sebaiknya selalu disiapkan cairan fiksatif pada waktu pengumpulan bahan (Botanika, 2008).
Tubuh tumbuhan secara morfologi terdiri atas unit sel yang dilindungi oleh dinding, dan masing-masing sel dengan mengadakan kesatuan dengan adanya substansi antar sel. Tubuh tumbuhan di dalamnya sel-sel ini terdapat dalam kelompok yang secara struktural dan fungsional berbeda dengan kelompok sel yang lain. Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi. Struktur sel rumit, namun demikian semua sel mempunyai persamaan dalam beberapa segi dasar. Jaringan yang menyusun tumbuh-tumbuhan terdiri dari jaringan muda dan dewasa. Jaringan-jaringan ini dapat ditemukan pada bagian akar, batang dan daun tumbuhan. Jaringan ini dapat dilihat dengan membuat suatu preparat penampang dari bagian-bagian tumbuhan (Devi, 2015).
Banyak cara dalam pembuatan preparat jaringan tumbuhan, diantaranya dengan metode parafin. Metoda ini sekarang banyak digunakan, karena hampir semua macam jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metoda ini. Kebaikan-kebaikan metoda ini, irisan yang dihasilkan jauh lebih tipis dari pada menggunakan metoda beku atau metoda seloidin. Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah bila menggunakan metode ini. Metode parafin juga memiliki kelemahan diantaranya jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah (Praptomo, 2010).
Metode parafin merupakan cara pembuatan preparat permanen yang menggunakan parafin sebagai media embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 mikron-8 mikron. Metode ini memiliki irisan yang lebih tipis daripada menggunakan metode beku atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih mencapai 10 mikron. Langkah-langkah penting dalam metode ini antara lain fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan (Botanika, 2008).
Pembuatan preparat merupakan upaya untuk mempermudah pengamatan suatu bahan. Metode Whole Mount merupakan metode dimana objek yang akan dibuat sebagai preparat berada dalam keadaan utuh, tanpa sectioning, sehingga dengan kondisi tersebut dapat diamati struktur utuh dari suatu organisme dan tentu saja objek akan terlihat dengan jelas ketika diamati menggunakan mikroskop (Fransisca, 2012).
Whole mount merupakan metode pembuatan preparat yang nantinya akan diamati dengan mikroskop tanpa didahului adanya proses pemotongan. Metode ini, preparat yang diamati merupakan preparat yang utuh baik itu berupa sel, jaringan, organ maupun individu. Gambar yang dihasilkan oleh preparat whole mount ini terlihat dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi secara umum saja (Devi, 2015).
SERAI WANGI
- Klasifikasi Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle)
Klasifikasi tanaman serai wangi adalah sebagai berikut (Tora, 2013):
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Classis : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Cymbopogon
Spesies : Cymbopogon nardus (L.) Randle
![]() |
| Tumbuhan Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) (Google, 2020) |
- Morfologi Tanaman Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle)
Tanaman serai wangi (C. nardus (L.) Randle) merupakan tanaman dengan habitus terna perenial, serai wangi merupakan tanaman dari suku Poaceae yang sering disebut deangan suku rumput-rumputan. Akar tanaman serai wangi (C. nardus (L.) Randle) memiliki akar yang besar. Akarnya merupakan jenis akar serabut yang berimpang pendek. Tanaman ini biasanya sering dijadikan sebagai obat tradisional (Wijayanti, 2015).
Batang tanaman serai wangi bergerombol dan berumbi, serta lunak dan berongga. Isi batangnya merupakan pelepah umbi untuk pucuk dan berwarna putih kekuningan, namun ada juga yang berwarna putih keunguan atau kemerahan, selain itu batang tanaman serai wangi (C. nardus (L.) Randle) juga bersifat kaku dan mudah patah. Batang tanaman ini tumbuh tegak lurus di atas tanah (Arifin, 2014).
Daun tanaman serai berwarna hijau dan tidak bertangkai. Daunnya kesat, panjang, runcing dan daun tanaman ini memiliki bentuk seperti pita yang makin ke ujung makin runcing dan berbau harum ketika daunnya diremas. Daunnya juga memiliki tepi yang kasar dan tajam. Tulang daun tanaman serai tersusun sejajar. Letak daun pada batang tersebar. Panjang daunnya sekitar 50-100 cm, sedangkan lebarnya kira-kira 2 cm. Daging daunnya tipis, serta pada permukaan dan bagian
bawah daunnya berbulu halus (Idawani, 2015).
Tanaman serai wangi (C. nardus (L.) Randle) ini jarang sekali memiliki bunga, kalaupun ada, pada umumnya bunganya tidak memiliki mahkota dan merupakan bunga berbentuk bulir. Buah tanaman serai wangi (C. nardus (L.) Randle) jarang sekali atau bahkan tidak memiliki buah, sedangkan bijinya juga jarang sekali hanya batang dan daun saja yang sangat mudah ditemukan pada tanaman ini (Arifin, 2014).
- Anatomi Tanaman Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle)
Susunan umum dari batang serai wangi dari bagian luar ke dalam adalah epidermis batang, jaringan korteks, berkas pengangkut, dan empulur batang. Daerah parenkim korteks terdapat sel dan kelenjar minyak yang bisa digunakan untuk produksi minyak, yaitu minyak atsiri. Susunan umum dari daun serai wangi dari atas ke bawah adalah epidermis atas, mesofil, berkas pengangkut, dan epidermis bawah. Sayatan melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas terdiri dari satu lapis sel yang berbentuk agak bulat dengan ukuran yang tidak selalu sama dan mempunyai rambut penutup. Susunan umum dari akar serai wangi dari bagian luar ke dalam adalah epidermis, korteks, selapis sel endodermis, dan stele akar, yang terdiri atas xilem dan floem (Sugiono, 2012).
- Kandungan
Minyak Atsiri yang Terdapat Pada Serai Wangi
Kandungan dari serai terutama minyak atsiri dengan komponrn sitronelal 32-45%, geraniol 12-18%, sitronelol 11-15%, geranil asetat 3-8%, sitronelil asetat 2-4%, sitral, kavikol, augenol, elemol, kadonon, kadinen, vanilin, limonen, kamfen. Minyak serai mengandung 3 komponen utama yaitu sitronelal, sitronelol, geraniol. Minyak serai memiliki aroma khas, karena aroma tersebut merupakan sebuah senyawa bergugus fungsi aldehid, yakni sitral sebagai senyawa utama minyak (Dewi, 2015).
- Jaringan yang Terdapat Pada Daun
Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Jaringan epidermis terdapat stomata berguna untuk tempat keluar masuknya CO2, O2 dan H2O dari dan ke luar tubuh tumbuhan. Epidermis
Ini berfungsi untuk pengambilan nutrisi dari dalam air dan untuk pertukaran gas.
Banyak tumbuhan air, epidermis berklorofil, kutikula tipis, stomata umumnya tidak ada. Tumbuhan air yang terapung letak stomata pada permukaan atas. Daun yang terendam air termodifikasi menjadi bentuk silindris untuk meminimalkan arus air yang melewati daun mencegah koyaknya daun. (Hidayat, 1995).
Mesofil terdiri dari 2 lapisan sel, palisade (jaringan pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang (Sugiono, 2012).
Letak palisade tepat dibawah epidermis pada sisi adaksial disebut daun dorsiventral atau bifacial, edangkan pada tumbuhan xerofit pada kedua sisi daun palisade disebut daun isobilateral. Parenkim spons berbentuk isodiametris atau memanjang sejajar permukaan daun. Fungsi untuk penyimpan gula dan asam amino yang di sintesis di lapisan palisade, membantu pertukaran gas. Siang hari terdapat sel-sel spons yang mengeluarkan O2 dan uap air ke lingkungan dan mengambil CO2 dari lingkungan (Wardani, 2014).
Jaringan pembuluh terletak pada jaringan spons. Jaringan pembuluh pada daun merupakan kelanjutan dari jaringan pembuluh pada batang. Ada dua jenis pembuluh kayu (xylem) yang berperan untuk mengangkut air dan mineral yang diserap akar dari tanah menuju daun dan pembuluh tapis (floem) yang berperan untuk mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan (Sugiono, 2012).
Berkas pembuluh kecil yang terdapat dalam mesofil dikelilingi oleh satu atau dua lapisan sel yang tersusun kompak dan membentuk seludang berkas pembuluh yang disebut seludang pembuluh, jika jumlahnya 2 maka seludang sel sebelah dalam terdiri atas parenkim dan yang diluar bisa terdiri dari sklerenkim. Adanya pembentukan gabus dalam dinding sel seludang pembuluh mengindikasikan bahwa sel mungkin berfungsi sebagai endodermis. Seludang pembuluh meluas hingga ujung berkas pembuluh yang bersangkutan. Jaringan pembuluh jarang terdedah langsung kepada udara dalam ruang antar sel pengecualian pada hidatoda (Hidayat, 1995).
LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN PREPARAT DAUN SERAI WANGI
- Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis, baki plastik, balok kayu, botol balsam dengan batang kaca, botol tempat bahan kimia, botol untuk fiksasi, botol vial, bunsen, gelas benda berlekuk, gelas pewarnaan, hotplate, jarum ose, kaca objek, kaca penutup, kamera, kertas label, lap tangan, mikroskop, mikrotom, oven parafin 480C dan 580C, pinset, pipet tetes, pompa vakum, rak tabung reaksi, scapel, silet, tempat untuk menyimpan preparat, tisu. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah asam nitrat, asam asetat glasial, alkohol, aquades, Canada balsam, daun serai wangi, fastgreen, formalin, gliserin, haupt’s adhesive, kutek, larutan bayklin, larutan TBA, 480C dan 580C, safranin, xylol.
- Cara Kerja
- 1. Metode Parafin
Dikoleksi daun serai wangi dengan persyaratan bahannya harus dalam keadaan segar, bahan tidak boleh terjepit, dan bahan dipotong kecil-kecil sesuai dengan larutan fiksatif. Selanjutnya bahan di fiksasi di dalam larutan FAA minimal 24 jam, setelah itu bahan di aspirasi dengan menggunakan pompa vakum untuk menghilangkan atau mengelurkan udara yang terdapat dalam jaringan di lakukan sampai benar-benar tidak ada lagi udara dalam jaringan tumbuhan tersebut, pompa vakum dihidupkan selama satu jam, lalu dimatika sebentar kemudian diulangi lagi proses aspirasinya. Kemudian sampel tanaman masuk ke tahap dehidrasi untuk menghilangkan atau menarik air dari jaringan tumbuhan, dengan seri alkohol-TBA, alkohol 50 % dilakukan 2 kali pengulangan selama 30 menit, lalu diganti dengan johansen I selama 2 jam, setelah itu larutan di ganti dengan johansen II + safranin 1% dimalamkan, setelah itu masuk ke dalam larutan johansen III selama 2 jam, lalu johansen IV selama 2 jam, johansen V selama 2 jam, kemudian masuk ke dalam larutan TBA selama 2 jam dengan 3 kali pengulangan, untuk pengulangan yang terakhir dimalamkan, setelah itu masuk ke dalam TBA: minyak parafin dengan perbandingan 1:1 selama 2 jam. Selajutnya masuk ke tahap infiltrasi, sampel dituangi dengan parafin 480C selama 2 jam dengan 3 kali pengulangan, pengulangan yang terakhir dimalamkan, lalu masuk ke parafin 580C selama 2 jam dengan 3 kali pengulangan, pengulangan yang terakhir dimalamkan juga. Setelah itu masuk ke tahap embedding (penanaman), sesudah sampel dari pergantian parafin 580C selama 3 kali pengulangan di masukkan ke dalam kotak kertas, di susun dengan rapid an jangan sampai ada udara yang terperangkap pada saat proses penanaman berlangsung, dan dibiarkan membeku. Kemudian masuk ke tahap penyayatan. Balok parafin yang sudah dirapikan di tempel di balok kayu, disayat dengan menggunakan mikrotom putar, dibuat sayatan melintang dan sayatan paradermal pada daun, jika kita benar dalam proses penyayatan maka akan terbentuk pita parafin yang rapi dan berurutan. Tahap selanjutnya adalah penempelan, ambil kaca objek yang bersih yang sudah direndam di dalam alkohol kemudian dikeringkan selanjutnya di tetesi dengan larutan haupt’s adhesive, dan gosok, ratakan dengan ujung jari, lalu tetesi dengan formalin 4% , setelah itu letakkan sayatan diatasnya dengan rapi lalu letakkan kaca objek di papan pemanas, jika ada formalin yang berlebih isap dengan kertas penghisap. Kemudian tahap selanjutnya adalah pewarnaan dengan safranin-fastgreen. Sampel yang sudah diletakan di kaca objek yang sudah biberi label sebagai penanda dimasukkan ke dalam larutan xylol 1 selama 24 jam, lalu di masukkan ke dalam xylol 2 selama 10 menit, alkohol 100% selama 10 menit, alkohol 96% 10 menit, alkohol 70% selama 10 menit, alkohol 50% selama 10 menit, alkohol 30% selama 10 menit, aquades selama 2 menit, safranin selama 2 jam, lalu cuci lagi dengan aquades selama 2 menit, alkohol 30% selama 10 menit, alkohol 50% selama 10 menit, alkohol 70% selama 10 menit, alkohol 96% selama 10 menit, fastgreen selama 1 menit, alkohol 100% selama 10 menit 2 kali pengulangan, alkohol: xylol (1:1) selama 10 menit, xylol 1 selama 10 menit xylol 2 dikeluarkan jika sudah siap untuk melakukan penutupan. Tahap selanjutnya setelah selesai pewarnaan sayatan di tutup dengan meneteskan Canada balsam dan ditutup dengan kaca penutup. Tahap selanjutnya pemberian label dengan keterangan nama spesies, organ, dan penampang, lalu diamati di bawah mikroskop, kemudian diambil gambarnya dengan kamera.
- 2. Metode Whole Mount
Dikoleksi daun serai wangi dengan persyaratan bahannya harus dalam keadaan segar, bahan tidak boleh terjepit, dan bahan dipotong kecil-kecil sesuai dengan larutan fiksatif. Selanjutnya bahan di fiksasi di dalam larutan FAA minimal 24 jam, kemudian sempel daun serai wangi di rendam ke dalam asam nitrat selama 20 menit, kemudian diletakan dalam aquades selama 5 menit, kemudian masukka ke dalam larutan bayklin selama 10 menit setelah dimasukan ke dalam aquades selama 5 menit, lalu pindahkan ke dalam larutan safranin selama 10 menit, setelah itu ambil sampel dan di sayat dengan halus, lalu di letakkan di kaca objek kemudian di tetesi dengan gliserin, setelah itu di tutup dengan kaca penutup, diamati di bawah mikroskop dan gambarnya di foto dan jangan lupa di beri keterangan gambar preparat tersebut apakah preparat melintang atau paradermal.
HASIL PEMBUATAN PREPARAT SERAI WANGI
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil preparat serai wangi yang dibuat, dengan metode parafin jaringan semuanya rusak dan putus-putus, lalu dengan metode whole mount didapatkan preparat serai wangi dengan irisan melintang yang terlihat epidermis atas, jaringan parenkim, berkas pengangkut dan epidermis bawah. Menurut Sugiono (2012) menyatakan bahwa, susunan umum dari daun serai wangi dari atas ke bawah adalah epidermis atas, mesofil, berkas pengangkut, dan epidermis bawah. Sayatan melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas terdiri dari satu lapis sel yang berbentuk agak bulat dengan ukuran yang tidak selalu sama dan mempunyai rambut penutup.
| Sayatan melintang daun serai wangi dengan metode parafin @destiayu3 (Dokumen Pribadi, 2016) |
![]() |
| Sayatan melintang daun serai wangi dengan metode Whole mount @destiayu3 |
(Dokumen Pribadi, 2016)
Sayatan melintang pada daun serai wangi juga terlihat saluran kelenjar minyak atsiri. Minyak atsiri ini biasanya mengandung komponen utama sitronelal, sitronelol, geraniol. Epidermis atas dan bawah pada daun serai wangi memiliki ukuran yang tidak sama. Menurut Wardani (2014) menyatakan bahwa, daun serai wangi terlihat pada penampang melintang yang mengenai tulang daun terdapat epidermis atas yang membentuk agak bulat dan ukurannya tidak sama semuanya, mempunyai rambut satu sel. Epidermis bawah juga mempunyai bentuk yang sama dengan epidermis atas namun, ukurannya lebih kecil sedikit. Sel parenkim ada yang berisi tetes minyak. Sel kolenkim terdapat diantara parenkim, serta terdapat
xilem dan floem dari berkas pembuluh tipe kolateral.
Daun serai wangi berwarna hijau, kesat, panjang, runcing dan memiliki bentuk seperti pita yang makin ke ujung makin runcing dan berbau harum ketika daunnya diremas. Daunnya juga memiliki tepi yang kasar dan tajam. Tulang daun tanaman serai tersusun sejajar. Letak daun pada batang tersebar. Menurut Idawani (2015) menyatakan bahwa, daun tanaman serai wangi berwarna hijau dan tidak bertangkai, kesat, panjang, runcing dan daun tanaman ini memiliki bentuk seperti pita yang makin ke ujung makin runcing. Daunnya juga memiliki tepi yang kasar dan tajam, tulang daun sejajar. Letak daun pada batang tersebar, panjang daunnya sekitar 50-100 cm, sedangkan lebarnya kira-kira 2 cm. Daging daunnya
tipis, serta pada permukaan dan bagian bawah daunnya berbulu halus.
Sayatan paradermal daun serai wangi yang dibuat dengan menggunakan metode parafin juga rusak sel rambutnya banyak putus dan tidak terlihat, sedangkan pada metode whole mount rambut yang terdapat pada serai wangi terlihat sangat jelas, pada sayatan paradermal ini stomata yang terdapat di epidermis daunpun terlihat. Rambut yang terdapat pada daun serai wangi berbentuk runcing, helaian (rambut penutup satu sel). Menurut Hidayat (1995) menyatakan bahwa, rambut atau trikoma bersel satu dan bersel banyak di bentuk dari sel epidermis. Kegunaan dari trikoma dalam taksonomi cukup dikenal. Kadang-kadang famili tertentu dapat dikenal dengan mudah dari macam rambut atau trikomanya.
![]() |
| Sayatan paradermal daun serai wangi dengan metode Whole mount @destiayu3 (Dokumen Pribadi, 2016) |
Stomata pada serai wangi termasuk stomata tipe halter, dimana sel penutupnya berbentuk halter, dinding penutup bagian tengah tebal yang merupakan penopang pada halter tersebut. Masing-masing ujung dindingnya tipis sedangkan dinding atas dan bawahnya tebal. Menurut Hidayat (1995) menyatakan bahwa, pada stomata tipe halter, sel penutup memiliki struktur yang khusus dan seragam bila dilihat dari permukaan daun. Sel penutup ramping ditengah dan menggelembung di ujungnya dua sel tetangga terdapat masing-masing disamping sebuah sel penutup.
Pembuatan preparat daun serai wangi dengan sayatan melintang dan sayatan paradermal dengan menggunakan metode parafin potongan sayatannya banyak putus, mengkerut, banyak sayatan yang rontok, jaringan banyak yang rusak ini disebabkan karena adanya kesalahan pada saat praktikum. Kesalahan yang dapat menyebabkan tidak bagusnya preparat daun serai wangi tersebut diantaranya proses embedding yang masih meninggalkan gelembung udara di dalam parafin, pada saat pewarnaan terlalu lama di dalam xylol, larutan safranin, dan fastgreen, dan saat penutupan terlalu banyak menggunakan kanada balsam. Menurut Praptomo (2010) bahwa, metode parafin juga memiliki kelemahan diantaranya jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah.
Preparat sayatan melintang dan paradermal daun serai wangi dengan menggunakan metode whole mount hasilnya cukup bagus, jaringan epidermis, parenkim, berkas pengangkut, dan saluran minyak atsiri telihat jelas pada sayatan melintang. Begitu pula pada sayatan paradermal, stomata dan trikomanya terlihat jelas. Metode whole mount sangat mudah dan cepat dikerjakan karena hanya menggunakan sampel yang segar, dan kelemahannya preparat hasil whole mount tidak bisa bertahan lama, dan cepat rusak. Menurut Devi (2015) menyatakan bahwa, metode whole mount memiliki kelemahan diantaranya preparatnya tidak bisa bertahan lama dan cepat rusak.
Manfaan pembutan preparat tumbuhan diantaranya bisa dijadikan sebagai media belajar, untuk melihat jaringan-jaringan yang terdapat pada tumbuhan, secara ekonomis, harga preparat sangat mahal jika dijual. Menurut Fransisca (2012) menyatakan bahwa, pembuatan preparat tumbuhan merupakan upaya untuk mempermudah pengamatan suatu bahan untuk media pembelajaran.
REFERENSI
- Arifin, M.N. 2014. Pengaruh Ekstrak N-Heksan Serai Wangi Cymbopogon Nardus (L.) Randle Pada Berbagai Konsentrasi Terhadap Periode Menghisap Darah Dari Nyamuk Aedes Aegypti. Skripsi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin Makassar.
- Botanika, F. 2008. Pemekatan Sitronelal Dalam Minyak Sereh Wangi (Cymbopogon Nardus L.) Dengan Fraksinasi Distilasi dan Identifikasi Menggunakan KG-SM. Indonesian Journal of Chemical Research. 2(1): 45-55.
- Devi, E.R. 2015. Pengembangan Lks Materi Alga Dengan Memanfaatkan Media Preparat Whole Mount Mikroalga. Jurnal Bioedu. 4(3): 949-956.
- Dewi, I.K. 2015. Identifikasi Kualitatif Dan Konrol Kualitas Minyak Atsiri Pada Herba Kering Serai Wangi Dengan Destilasi Air. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan. 4(1): 11–14.
- Fransisca, F. 2012. Identifikasi Papasan (Coccinia grandis L.) di Tiga Populasi di Yogyakarta. Jurnal Biologi Indonesia. vol 6 (1): 131- 142.
- Hidayat, E. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB. Idawani. 2015. Serai Wangi Tanaman Penghasil Atsiri yang Potential, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh. Jurnal Pertanian. 4(3): 12-19.
- Praptomo, 2010. Pengambilan Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Serai Wangi (Cymbopogon winterianus) Menggunakan Metode Distilasi Uap dan Air dengan Pemanasan Microwave. Jurnal Teknik Pomits. 2(1): 93-97.
- Sugiono. 2012. Studi Morfologi Dan Analisis Korelasi Antar Karakter Komponen Hasil Tanaman Sereh Wangi (Cymbopogon Sp.) Dalam Upaya Perbaikan Produksi Minyak. Skripsi. FakultasPertanian UNS.
- Tora. N. 2013. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Serai. (http://www. Klasifikasi tanaman serai dan klasifikasinya.com). Diakses pada tanggal 07 November 2016.
- Wardani, S. 2014. Uji Aktivitas Minyak Atsiri Daun Dan Batang Serai (Andropogon Nardus L) Sebagai Obat Nyamuk Elektrik Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Surakarta.
- Wijayanti, L.W. 2015. Isolasi Sitronellal Dari Minyak Sereh Wangi (Cymbopogon Winterianus Jowit) Dengan Distilasi Fraksinasi Pengurangan Tekanan. Jurnal Farmasi Sains Dan Komunitas.12(1): 22-29.
LAMPIRAN
![]() |
| Alat dan bahan yang digunakan pada saat pembuatan preparat serai wangi dengan metode parafin (Dokumen Pribadi, 2016) @destiayu3 |
![]() |
| Alat dan bahan yang digunakan pada saat pembuatan preparat serai wangi dengan metode whole mount (Dokumen Pribadi, 2016) @destiayu3 |
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2030310355248779"
crossorigin="anonymous"></script>






Lanjutkan
BalasHapus