Dalam balutan canggung dan baluran
singkuh
Kita bersitatap dengan langit barat
Lalu terjerat
Oleh derik detik yang seolah terjebak di
dalam sebuah stoples bernama waktu
Dalam suatu lengkung lompatan yang indah
Matahari tercebur ke dalam larungan awan
Lalu mengedip genit di detik terakhir
Kepada kita,
Yang duduk bersisian
Namun tak kunjung membuka mulut untuk
bertukar cinta, suka, tawa,
canda, atau sekedar kata
Kita malu-malu
Bertabur berkas-berkas semu
Dari cakrawala yang menyerupai subuh
Betapa aku bingung memilah
Manakah yang menyebabkan apa?
Senja yang merah,
Ataukah senyumu yang merekah?
Palembang, 26 Maret 2020
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2030310355248779"

semoga perjalanan rasanya tepat sasaran.
BalasHapusDitunggu karya berikutnya
aamiin, terima kasih anonim atas doanya
HapusMungkin bukan karena keduanya ataupun malu. Tetapi, lamunan yang tiada ujung, memaksa untuk bersikap enggan untuk membuka mulut.
BalasHapusSemangat partner :)
makasih partner or rival pada masanya
HapusSemoga penantian saat ini berujung sebuah kepastian yg membahagiakan...
BalasHapusSemoga apa yg saat ini diusahakan akan dimudahkan jalannya...
Semua akan indah pada waktuNya, disaat diri sendiri tak pernah membayangkan akan terjadii... ☺️
Semoga berakhir didatangkan dengan CEPAT dan dengan orang yg TEPAT 🙏🏻
Aamiin.... Semoga doanya dijabah allah
Hapus